Breaking News:

Berita Terkini

Peran Pendidikan Pada Sektor Industri, BRIN: Lakukan Riset Pasar Pakai Rumus 'Apa yang Dibutuhkan'

Menjadi hal vital dalam menyumbang kekuatan ekonomi Indonesia, sektor industri makin menjadi sering untuk diperhatikan

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Fikri Firmansyah
Plt Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi Deputi Fasilitas Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Hotmatua Daulay saat hadir secara virtual sebagai narasumber utama diacara FGD yang digelar oleh Direktorat Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud). Senin (22/11/21). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Menjadi hal vital dalam menyumbang kekuatan ekonomi Indonesia, sektor industri makin menjadi sering untuk diperhatikan.

Sejalan dengan hal tersebut, di Surabaya, bertempat di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya resmi terselenggara kegiatan Forum Group Discussion (FGD) secara hybrid dengan mengangkat tema "Membangun Ekosistem Riset Terapan Inivatif Yang Sinergis dan Aplikatif Sebagai Kontribusi Nyata Terhadap Kebutuhan Dunia Usaha, Dunia Industri dan Masyarakat".

Dihari pertamanya, FGD yang digelar oleh Direktorat Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) ini turut mengundang
Plt Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi Deputi Fasilitas Riset dan Inovasi - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hotmatua Daulay sebagai narasumber utama.

Dalam sambutannya secara virtual, pria yang akrab disapa Hotma itu mengatakan, era sekarang, peran instasi pendidikan khususnya perguruan tinggi terhadap sektor industri memang penting, utamanya dalam hal Pengembangan Teknologi Industri (PPTI).

Baca juga: Tekad Besarkan Partai, PPP Jatim Sebut Rangkul Berbagai Kalangan

"Peran yang saya maksud disini yakni adalah melalui sebuah riset penelitian. Dengan ini kita tau apa yang dibutuhkan industri.

Namun, sejalan dengan hal itu juga, jangan sampai keliru melakukan riset pakai rumus yang kita bisa. Ini salah, karena jika dilakukan, sebagai contoh dalam menciptkan sebuah alat maka belum tentu alat dari hasil riset dengan rumus apa yang kita bisa itu belum tentu diterima oleh pihak industri," ungkap Hotma secara virtual, Senin (22/11/21).

Berkaca dari itu, imbuh dia, maka sudah seharusnya ketika ingin menciptkan inovasi seperti alat untuk memudahkan industri, lebih dulu melakukan riset yang mendalam dengan acuan apa yang dibutuhkan pasar.

Hotma mengatakan, dengan melakukan riset dengan rumus yang benar maka keuntungan yang didapat pasar dalam hal ini industri tidak hanya disektor yang paling atas saja tapi juga dari yang paling bawah.

"Semisal kopi, bagaimana kita harus bisa menciptakan sebuah alat yang memudahkan orang yang terkait dalam melakukan panen biji kopi.

Kemudian, juga lanjut menciptakan sebuah alat yang membuat biji kopi menjadi bubuk kopi. Ini penting karena, 1 kg biji kopi dihargai Rp18.000,00, namun jika biji kopi ini sudah jadi bubuk kopi, 8 gram-nya bisa dihargai Rp 38.000,00.

Artinya sebuah inovasi bisa turut menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karenanya harus riset yang mendalam serta berpatokan pada apa yang dibutuhkan pasar, bukan apa yang kita bisa," jelasnya.

Hotma menambahkan, setiap tujuan riset untuk industri pada intinya memang harus fokus dalam hal mengembangkan teknologi yang berujung pada produk baru yang memiliki daya ungkit ekonomi yang signifika.

"Untuk mencapai tujuan itu sendiri, maka proses riset mendalam dengan rumus yang baik perlu diterapkan instasi pendidikan, yaitu inputs, activities, outputs, outcome, impact," pungkasnya.

Kumpulan berita Jatim terkini

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved