Berita Kabupaten Mojokerto

Massa Geruduk Polsek Dawarblandong Mojokerto, Desak Polisi Usut Kasus Penganiayaan Tiga Warga PSHT

Massa pesilat geruduk Polsek Dawarblandong Mojokerto, desak polisi usut tuntas kasus penganiayaan terhadap tiga warga PSHT.

Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Mohammad Romadoni
Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Rofiq Ripto Himawan menjelaskan perkembangan penyelidikan kasus penganiayaan terhadap tiga warga PSHT, Senin (22/11/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Massa dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mendatangi Kantor Polsek Dawarblandong, Polresta Mojokerto, Senin (22/11/2021) malam.

Kedatangan mereka untuk mendesak pihak kepolisian Polresta Mojokerto agar menuntaskan penyelidikan kasus penganiayaan terhadap tiga warga PSHT.

Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Rofiq Ripto Himawan mengatakan, ratusan orang dari perguruan silat PSHT melakukan aksi spontanitas menanyakan perkembangan penyelidikan kasus terkait penganiayaan
oleh Polsek Dawarblandong.

"Kami akan bersikap objektif sesuai hukum acara yang berlaku dan penyelidikan itu masih berjalan mengumpulkan alat bukti untuk bisa memunculkan siapa yang bertanggung jawab dalam kejadian itu," ungkap AKBP Rofiq Ripto Himawan di Polsek Dawarblandong, Senin (22/11/2021).

AKBP Rofiq Ripto Himawan menyebut, sebelumnya ketiga korban dianiaya orang tidak dikenal di kawasan Desa Cendoro perbatasan Dawarblandong-Kemlagi. Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka parah dan satu orang mangalami luka sayatan di tangan.

Pihaknya telah mengoptimalkan penyelidikan melakukan Scientific Crime Investigation, sketsa wajah hingga meminta keterangan dari ketiga korban.

Namun berdasarkan keterangan dari korban, mereka tidak mengetahui orang yang tiba-tiba menyerang mereka, lantaran kejadiannya pada pukul 01.30 WIB dini hari sekitar tiga bulan lalu, Minggu (19/9/2021).

Apalagi saat kejadian, tidak ada saksi dan lampu penerangan, serta laporan penganiayaan diterima saat korban sudah dirawat di rumah sakit Lamongan.

"Dari pengakuan korban tidak ada yang tahu, kita melakukan langkah identifikasi TKP wilayah Dawarblandong perbatasan Kemlagi di Desa Cendoro, saya sendiri yang pimpin," jelasnya.

Dia mengapresiasi warga PSHT yang menanyakan terkait kasus penganiayaan itu tanpa melakukan street justice dan membabi buta.

Baca juga: Ratusan Pesilat Geruduk Polsek Dawarblandong Mojokerto, Ini Pemicunya

"Tapi harapan kami, lain kali jangan mengganggu ketertiban umum maupun mengganggu fasilitas publik," ucap Rofiq.

Pihaknya juga memastikan akan mengusut tuntas kasus penganiayaan yang melukai tiga korban tersebut.

"Saya pastikan proses hukum berjalan, kami akan melakukan penyidikan secara proporsional sesuai tata cara hukum yang berlaku," terangnya.

Menurut dia, tidak sampai terjadi chaos dalam aksi spontanitas massa gabungan dari perguruan silat Mojokerto, Lamongan dan Gresik itu.

Massa kemudian mulai membubarkan diri meninggalkan lokasi Polsek Dawarblandong.

Rofiq mengimbau perguruan silat, terutama di wilayah hukum Polresta Mojokerto agar tidak mengenakan atribut di luar latihan atau di tempat publik untuk menghindari potensi konflik.

"Karena itu akan memancing terjadinya konflik-konflik yang sebenarnya itu tidak harus terjadi," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved