Breaking News:

Berita Kota Batu

MS Alhaidary Sebut Jawaban Somasi Pemkot Batu Mengada-ada: Publik Berhak atas Keterbukaan Informasi

MS Alhaidary sebut jawaban somasi Pemkot Batu terlalu mengada-ada: Publik berhak atas keterbukaan informasi yang transparan.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Pedagang di Unit 1 dan 2 Pasar Besar Kota Batu mengemas barang jualan untuk pindah ke tempat relokasi, 2021. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, KOTA BATU - Pengacara MS Alhaidary melayangkan surat somasi kedua sekaligus yang terakhir ke Pemkot Batu. Surat somasi kedua ini menjawab pertanyaan Pemkot Batu terkait legalitas Alhaidary selaku pengacara para pedagang.

Selain itu, MS Alhaidary juga menyayangkan tidak adanya jawaban riil mengenai pokok somasi, yakni status kios di Unit 1 dan 2 Pasar Besar Kota Batu

Haidary menerangkan, alasan Pemkot Batu tidak menjawab substansi somasi dan cenderung mempertanyakan surat kuasa terlalu mengada-ada. Hadiary menegaskan, somasi tersebut untuk kepentingan para pedagang yang semestinya direspons oleh Pemkot Batu. 

"Somasi tersebut menyangkut langsung kepentingan para pedagang. Publik berhak atas keterbukaan informasi yang transparan dari Pemkot Batu," ujar Haidary, Senin (3/1/2022).

Haidary mengatakan, Pemkot Batu sebaiknya segera menyelesaikan persoalan tersebut. Jika tidak segera diselesaikan, ia khawatir kasus akan melebar, baik perdata maupun pidana.

"Baik dengan saya atau tanpa saya, dikhawatirkan kasus hukumnya melebar. Tidak terkecuali juga mengenai Pasal 55 UU nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik," jelasnya. 

Surat somasi yang terakhir ini diharapkan bisa mendapatkan jawaban yang tepat dari Pemkot Batu. Alhaidary berharap ada win-win solutions antara pedagang dan pemerintah menyikapi persoalan ini.

“Somasi ini kan hak saja, artinya kami akan menegur pemerintah. Kalau bisa sebelum dilaksanakan pembongkaran, dijelaskan terlebih dahulu ke pedagang. Jika tidak ada tanggapan, ya kami akan tempuh langkah hukum, baik perdata maupun pidana,” ungkapnya.

Hingga saat ini, masih ada sejumlah pedagang yang masih mengangsur ke Bank Jatim. Para pedagang mengangsur antara Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu per bulan ke Bank Jatim. Nilai aset di Unit 1 & 2 itu diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Baca juga: Pedagang Pasar Besar Kota Batu Resah Tak Kunjung Direlokasi, Padahal Barang Dagangan Sudah Dikemasi

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved