Berita Probolinggo

8 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo Rawan Longsor, BPBD Imbau Warga Bisa Kenali Tanda Bencana

Sebanyak delapan kecamatan di Kabupaten Probolinggo masuk dalam daerah rawan bencana tanah longsor.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/DANENDRA KUSUMA
Sejumlah rumah warga yang berlokasi di dekat tebing di Desa Andung Biru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Delapan kecamatan, termasuk Kecamatan Tiris, masuk daerah rawan longsor, Kamis (27/1). 

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Sebanyak delapan kecamatan di Kabupaten Probolinggo masuk dalam daerah rawan bencana tanah longsor.

Secara geografis, ke delapan kecamatan berada di area pegunungan dan dikelilingi tebing.

Supervisor Pusdalops PB BPBD Kabupaten Probolinggo mengatakan 8 kecamatan rawan terjadi bencana tanah longsor itu, yakni Kecamatan Lumbang, Kecamatan Sukapura, Kecamatan Sumber, dan Kecamatan Gading.

Lalu, Kecamatan Tiris, Kecamatan Krucil, Kecamatan Kotaanyar, dan Kecamatan Pakuniran.

Kecamatan-kecamatan itu berlokasi di lereng Gunung Bromo dan Gunung Argopuro.

"Sepanjang 2021, tercatat ada 47 kejadian bencana tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Probolinggo. Umumnya, bencana tanah longsor terjadi kala musim penghujan," katanya, Kamis (27/1).

Baca juga: Asyik Nonton TV, Warga Situbondo Nyaris Tertimpa Material Longsor, Lari saat Dengar Suara Gemuruh

Aries mengimbau agar warga di delapan kecamatan itu selalu waspada, terutama saat hujan lebat dengan durasi lama.

Selain itu, mengingat cukup banyak rumah warga dekat dengan tebing.

"Kami berharap warga bisa mengenali daerah yang kemungkinan rawan longsor. Tanda-tanda yang bisa dikenali adanya keretakan tanah, vegetasi yang gundul, dan reruntuhan batu kecil," jelasnya.

Ketika mengetahui tanda itu, lanjutnya, warga diminta sebisa mungkin menghindari atau mengevakuasi diri ke tempat lebih aman. Itu untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

Baca juga: Terjawab Kecurigaan Guru, Siswa SMP di Jember Kedapatan Simpan Pil Koplo, Mengaku Dikasi Teman Siswi

Di sisi lain, kini sudah terbentuk 50 Desa Tangguh Bencana (Destana) di tiap desa.

Destana adalah desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dalam menghadapi potensi ancaman bencana.

"Warga juga diminta segera melaporkannya jika menemukan tanda-tanda bencana longsor kepada BPBD untuk dilakukan langkah-langkah antisipasi," pungkasnya. 

Baca juga: Skuter Listrik Menjamur di Area SLG Kediri, Bisa Dikenakan Sanksi Jika Beroperasi di Jalan Raya

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved