Berita Batu

Klenteng Kwam Im Tong Kota Batu Rayakan Imlek Secara Penuh Kesederhanaan

Klenteng Kwam Im Tong, yang terletak di Jl Gajah Mada, Kota Batu merayakan Imlek 2573 dengan penuh kesederhanaan. Sudah tiga tahun berturut-turut

Penulis: Benni Indo | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Benni Indo
Suasana di dalam Klenteng Kwam Im Tong Kota Batu saat perayaan Imlek 2573 di tahun 2022 Masehi 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Klenteng Kwam Im Tong, yang terletak di Jl Gajah Mada, Kota Batu merayakan Imlek 2573 dengan penuh kesederhanaan. Sudah tiga tahun berturut-turut Klenteng ini menyelenggarakan Imlek di tengah pandemi. Pembatasan jarak fisik dan bentuk protokol kesehatan lainnya membuat kegiatan di satu-satunya klenteng umum di Kota Batu ini harus batasi.

Pengurus Kelenteng Kwan Im Tong, Handy Wijaya saat ditemui di lokasi berharap pandemi segera berakhir dan kegiatan masyarakat kembali normal, termasuk kegiatan perekonomiannya. Ia mengatakan perayaan Imlek selama pandemi digelar secara sederhana, tak ada kemeriahan yang memicu kerumunan massa.

Umat banyak yang melaksanakan ibadah di rumah. Sekalipun ke klenteng, jumlahnya dibatasi. Jumlah umat yang biasa beribadah di Klenteng Kwam Im Tong tidak sampai 100 orang. Terlebih, banyak yang telah lansia sehingga lebih memilih berkegiatan di rumah kala pandemi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, biasanya terdapat tradisi pelepasan burung dan ikan serta serangkaian acara lainnya hingga perayaan Cap Go Meh. Meski tak ada kemeriahan, pengurus klenteng tetap membersihkan ruangan, altar dan patung para dewa. Hal itu tak boleh dilewatkan saat menyambut perayaan Imlek.

Baca juga: 11 Larangan saat Tahun Baru Imlek, Jangan Mencuci Pakaian hingga Tidak Boleh Memotong Rambut

“Bersih-bersih sudah kami lakukan sepekan sebelum Imlek oleh umat secara gotong-royong,” ujar Handy.

Perayaan malam Cap Go Meh juga akan berbeda. Cap Go Meh dirayakan setiap tanggal 15 penanggalan Tionghoa. Sebelum pandemi, malam perayaan Cap Go Meh ditandai dengan umat yang berkumpul dan makan bersama.

Handy sudah memperkirakan bahwa jumlah umat yang datang untuk sembahyang akan turun, selain pandemi juga karena banyak yang lansia.

“Kalau di masa pandemi seperti saat ini, saya tak yakin yang bersembahyang bisa mencapai 20 orang,” ungkapnya.

Handy menjelaskan, sembahyang di tahun baru Imlek bukan merupakan suatu hal yang harus dilakukan. Lantaran tahun baru Imlek bukan merupakan hari besar keagamaan namun jika tidak sembahyang di tahun baru Imlek, terasa kurang sempurna.

“Tahun baru Imlek itu tidak ada keharusan bersembahyang karena bukan hari besar keagamaan. Berbeda dengan Natalan atau Hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari besar keagamaan dan dianjurkan untuk beribadah,” jelas dia.

“Kami berharap, di tahun Macan Air ini pandemi bisa segera berlalu. Dengan berakhirnya pandemi, perekonomian akan bangkit kembali,” katanya. (Benni Indo)

Kumpulan berita Batu terkini

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved