Berita Nganjuk

Meski Belum Ada Kasus Hepatitis Akut, Masyarakat Nganjuk Diminta Bisa Kenali Gejala Awal

Langkah kewaspadaan dan antisipasi penyakit hepatitis akut dilakukan Rumah Sakit Daerah (RSD) Kabupaten Nganjuk.

Penulis: Achmad Amru Muiz | Editor: Ndaru Wijayanto
istimewa
Kepala Bidang Pelayanan RSUD Nganjuk, dr Sunyoto Cipto Atmojo. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Achmad Amru Muiz

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Langkah kewaspadaan dan antisipasi penyakit hepatitis akut dilakukan Rumah Sakit Daerah (RSD) Kabupaten Nganjuk.

Hal itu sekaligus menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan tentang Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute  Hepatitis Unknown Aetiology).

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Nganjuk, dr Sunyoto Cipto Atmojo menjelaskan, sesuai sistem manajerial bidang pelayanan rumah sakit, langkah yang sudah diambil sesuai acuan SE dari Kemenkes dan meneruskan ke seluruh bidang rumah sakit serta edukasi kepada masyarakat.

"Untuk langkah awal dalam penanganan yang terpenting adalah perlunya kesadaran masyarakat sendiri terhadap gejala yang dirasakan di dalam tubuh, kemudian apabila ada keluhan segera mengunjungi Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) terdekat," kata Sunyoto Cipto Atmojo dalam publikasi Diskominfo Kabupaten Nganjuk, Selasa (10/5/2022).

Dijelaskan Sunyoto, secara umum kisaran kasus Hepatitis Akut terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun dengan gejala awal mual, muntah, sakit perut, diare disertai demam ringan.

Baca juga: Penjelasan IDAI Jatim Soal Penanganan Pasien Hepatitis Misterius: Jangan sampai Kondisinya Berat

Selanjutnya, gejala akan semakin berat seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan buang air besar berwarna putih pucat.

Pemeriksaan laboratorium telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.

Oleh karena itu, menurut Sunyoto, diyakini kalau hepatitis akut ini bisa dicegah sejak dini apabila masyarakat menjalankan serius Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Dimana kemungkinan penularan melalui bekas alat makan seseorang yang mengalami hepatitis akut atau bisa dikatakan yang melakukan kontak erat.

Baca juga: Penjelasan IDAI Jatim Soal Penanganan Pasien Hepatitis Misterius: Jangan sampai Kondisinya Berat

Pihak Rumah Sakit Daerah, tambah Sunyoto, juga mulai meningkatan kewaspadaan di lingkup Rumah Sakit melalui pengamatan semua kasus sindrom jaundice akut yang tidak jelas penyebabnya dan ditangani sesuai tata laksana serta dilakukan pemeriksaan laboratorium.

"Tetapi, untuk saat ini belum ada laporan yang masuk mengenai hal tersebut,” ucap Sunyoto.

Meski demikian, imbuh Sunyoto, walaupun di Kabupaten Nganjuk belum ada pelaporan kasus, namun upaya antisipasi serius digalakkan oleh Pemerintah Daerah, Dinas terkait, tim promosi kesehatan dan bidang lainnya serta seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Nganjuk bersinergi dan bekerjasama agar sosialisasi kewaspadaan penyakit Hepatitis Akut sampai ke lapisan bawah masyarakat.

"Makanya, kami intensif mengedukasi masyarakat melalui pola PHBS pada pasien dan penunggu. Dan supaya masyarakat yang lainnya mengetahui maka kita juga menggunakan media sosial website, instagram, facebook, videotron dan yang lainnya sebagai sarana sosialisasi untuk masyarakat lebih melakukan pemeriksaan sejak dini," tutur Sunyoto Cipto Atmojo.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved