Berita Terkini

Sri Lanka Dilanda Krisis, Pakar Ekonomi Sebut Kondisi Indonesia Aman: Utang Bukan Masalah

Sri Lanka mengalami krisis ekonomi berkelanjutan dan sudah mendunia. Salah satu penyebab krisis tersebut adalah utang luar negeri

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Januar
Istimewa/ TribunJatim.com
Pakar ekonomi UNAIR Dr Miguel Angel Esquivias Padilla MSE komentari krisis ekonomi Sri Lanka 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Baru-baru ini, negara Sri Lanka mengalami krisis ekonomi berkelanjutan dan sudah mendunia. Salah satu penyebab krisis tersebut adalah utang luar negeri yang melimpah yang tak mampu dibayar oleh Sri Lanka.

Pakar ekonomi UNAIR Dr Miguel Angel Esquivias Padilla MSE memberikan tanggapan mengenai krisis tersebut.

Penyebab Krisis Ekonomi di Sri Lanka menurut Miguel sendiri disebabkan oleh adanya kombinasi beberapa faktor yaitu ekonomi, politik, dan sosial. Kombinasi faktor tersebut kurang pas, apalagi diperparah dengan tekanan kondisi Covid-19 serta tekanan perang Rusia dan Ukraina.

“Namun demikian, dari dulu memang perekonomian Sri Lanka sudah memiliki beberapa kelemahan yaitu Sri Lanka punya utang yang cukup besar,” ungkapnya. Senin (18/7/22).

Pada tahun 2005, lanjut Miguel, Sri Lanka sudah mengalami defisit yang bertambah dari tahun ke tahun. Bahkan, aspek pertumbuhan ekonomi Sri Lanka dari 2005 hingga 2021 mengalami enam kali pertumbuhan ekonomi yang negatif. Sri Lanka juga mengalami sebuah transformasi dalam perekonomian dimana manufaktur perindustrian menurun.

Baca juga: Pakar Ekonomi Unair Bongkar Penyebab Rupiah Melemah, Bukan karena Pandemi

“Sri Lanka mengalami kondisi atau perubahan ekstraksional dalam perekonomiannya,” terang Miguel.

Dosen UNAIR kelahiran Meksiko itu menambahkan bahwa krisis yang dialami Sri Lanka juga dipengaruhi kondisi Covid-19.

"Jadi memang pandemi turut berdampak pada penerimaan valuta asing karena Sri Lanka tergantung pada uang yang dikirim dari luar negeri.

Hampir sepuluh persen dari perekonomian Sri Lanka tergantung pada penerimaan uang dari luar negeri atau penerimaan dari aspek jasa pariwisata,” tuturnya.

Selain itu, juga terjadi kelangkaan beberapa barang di Sri Lanka. Semua faktor itu menjadi satu sehingga menciptakan sebuah masalah yang cukup besar.

Ia menambahkan, hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kasus krisis ekonomi di Sri Lanka adalah tentang ketergantungan negara terhadap impor dan barang dari luar negeri. Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR itu, Sri Lanka sendiri sangat bergantung pada negara lain, misal pupuk dan input lain yang penting.

“Ketika terjadi krisis seperti ini, Sri Lanka dalam negeri tidak memiliki kapabilitas atau kapasitas untuk bisa mengganti produk tersebut dengan produk lokal,” ucapnya.

Miguel menyarankan, suatu negara perlu menjaga defisit perekonomian yang mereka miliki. Jangan sampai terlalu lama membiarkan defisit bertambah terus menerus.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved