Berita Kota Batu

Falsafah Gunungan di Gapura Jalan Kawi Kota Batu yang Jadi Polemik Warga

Falsafah gunungan di gapura Jalan Kawi Kota Batu yang jadi polemik warga dan pemerintah setempat, menurut seniman Slamet Hendro Kusuma.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Seniman dari Kota Batu, Slamet Hendro Kusuma saat ditemui di rumahnya, Kamis (18/8/2022). Ia mengajak berbagai pihak untuk introspeksi atas polemik keberadaan gapura di Jalan Kawi Kota Batu.   

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Gapura yang berada di Jalan Kawi, Kota Batu, yang baru saja selesai dibangun menuai banyak prasangka dari publik, karena nilai anggaran dan bentuknya yang dianggap tidak pantas.

Terlepas dari hal itu, gapura ini memiliki nilai seni. Terdapat ukiran yang menghiasi gapura, juga gunungan seperti pada pewayangan.

Hanya saja, keberadaan gunungan di bagian atas gapura itu terlihat tidak wajar karena terpisah dengan sisi yang lain. Bentuk ini tidak banyak ditemui di masyarakat lokal.

Seorang seniman dari Kota Batu, Slamet Hendro Kusuma membagikan perspektifnya tentang nilai seni gunungan terpisah di gapura ini. 

Menurutnya, seni adalah hal yang imajinatif. Oleh sebab itu, nilainya tidak bisa diukur.  

Ada perbedaan yang sangat mendasar pada seni perspektif barat dan timur. Di barat, seniman memiliki kebebasan yang lebih tinggi. Terkadang seni yang mereka buat menubruk pola tradisional.

Gapura di jalur masuk Jl Kawi, Kelurahan Sisir, Kota Batu yang menjadi perbincangan masyarakat sekitar. Dinas Pariwisata Batu sempat minta proyek gapura Rp 71 juta tak diberitakan
Gapura di jalur masuk Jl Kawi, Kelurahan Sisir, Kota Batu yang menjadi perbincangan masyarakat sekitar. Dinas Pariwisata Batu sempat minta proyek gapura Rp 71 juta tak diberitakan (TRIBUNJATIM.COM/BENNI INDO)

"Bisa bertolak belakang dari nilai dasarnya, misal karya Monalisa tiba-tiba wajahnya diganti. Pada awalnya lukisan itu disakralkan, jadi seni yang sudah direduksi," ujarnya, Kamis (18/8/2022).

Berbeda halnya jika di timur, kata Slamet, apa yang terjadi di barat tidak terjadi di timur. Pasalnya, di timur banyak menjelaskan tentang tiga dunia, yakni dunia bawah sadar, rasio dan simbolistik atau simbol-simbol suci. 

Baca juga: Kepala Kejaksaan Negeri Kota Batu Tanggapi Soal Proyek Gapura di Kelurahan Sisir: Telaah Dulu

"Ketika bicara bawah sadar, orang akan berpikir tentang dunia yang diagungkan. Memang dunia ini berbenturan dengan rasio, tapi itu diyakini," terangnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved