Berita Kota Batu

Falsafah Gunungan di Gapura Jalan Kawi Kota Batu yang Jadi Polemik Warga

Falsafah gunungan di gapura Jalan Kawi Kota Batu yang jadi polemik warga dan pemerintah setempat, menurut seniman Slamet Hendro Kusuma.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Seniman dari Kota Batu, Slamet Hendro Kusuma saat ditemui di rumahnya, Kamis (18/8/2022). Ia mengajak berbagai pihak untuk introspeksi atas polemik keberadaan gapura di Jalan Kawi Kota Batu.   

Slamet juga memberikan contoh apik yang pernah terjadi di Kota Batu, yakni polemik bangunan apel di Alun-alun Kota Batu. Bangunan ini sempat menuai kritik karena dijadikan sebagai toilet, padahal apel adalah simbol kemakmuran pertanian Kota Batu

"Pernah terjadi juga tentang Apel. Itu kan hampir mirip, hanya saja apel itu produk pertanian, tidak ada mitologinya, kalau gunungan ini ada mitologinya. Apalagi bagi orang-orang yang mendalaminya, itu sesuatu hal yang tidak bisa diganggu. Ada juga bentuk-bentuk yang tidak terlalu tampak seperti yang di tari-tarian Arjuna Wiwaha. Itu bentuk gunungan, tapi kesatuannya terbaca walau dibentuk dengan pola pendekatan seni kontemporer," ungkapnya.

Slamet menyarankan gunungan yang terpisah itu dikembalikan menyatu agar tidak berpotensi memunculkan polemik. Ia mengatakan, Dinas Pariwisata memiliki tujuan yang baik, namun asumsi konsepnya masih belum tepat.

Slamet menyarankan agar pembuatan simbol-simbol yang mengandung nilai sakral dikerjakan dengan hati-hati. Pemerintah Kota Batu dianjurkan untuk bisa berdiskusi dengan para seniman maupun budayawan. Hal itu penting dilakukan agar menghindari kesalahan-kesalahan pemaknaan.

"Makannya harus hati-hati, kalau kita orang timur jangan menabrak yang sifatnya disakralkan. Itu saja sebetulnya, ini kan masalah norma etik yang juga berkaitan dengan estetika. Barat mengukur rasa dengan logika, tapi kalau di timur mengukur logika itu dengan rasa. Tentu berbeda cara pandang ini," tegas lulusan Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Atas kejadian ini, Slamet mengajak agar ada introspeksi bersama. Masyarakat diimbau jangan menghukum pihak yang mungkin tidak tahu tentang nilai-nilai budaya dan seninya. Pemerintah sendiri juga harus berlajar tentang makna-makna yang tidak boleh dilanggar, karena itu bersifat etik dan mitos.

"Pemerintah harus membentuk orang-orang ahli, kalau belum punya bisa bertanya. Kalau tidak mengerti kebudayaan, ya tanya saja kan di Kota Batu banyak," ujarnya.

Bagi Slamet, timbulnya polemik ini di masyarakat memunculkan berkah tersendiri. Berkahnya yakni bisa melihat dan mempelajari kembali nilai-nilai luhur yang terkandung. Menurutnya, nilai-nilai ini sudah mulai pudar di masyarakat, perlu ada penguatan agar tidak hilang.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Kumpulan berita seputar Batu

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved