Berita Malang

Eksekusi Pengosongan Rumah di Malang Sempat Dihadang Sejumlah Orang, Polisi Berikan Tanggapan

Panitera bersama petugas juru sita dari Pengadilan Negeri Kelas I A Malang (PN Malang) melakukan eksekusi pengosongan dua objek rumah yang terletak di

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/KUKUH KURNIAWAN
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto didampingi Kabag Ops Polresta Malang Kota, Kompol Supiyan saat mengawasi pengamanan aksi eksekusi pengosongan rumah, Senin (29/8/2022). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Panitera bersama petugas juru sita dari Pengadilan Negeri Kelas I A Malang (PN Malang) melakukan eksekusi pengosongan dua objek rumah yang terletak di Jalan Dirgantara II C 2 No 29 dan 30 RT 3 RW 10 Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, Senin (29/8/2022).

Dalam eksekusi itu, petugas PN Malang sempat dihadang sejumlah orang yang telah berjaga di rumah yang dieksekusi tersebut.

Aksi ricuh dan dorong-dorongan sempat terjadi. Namun, berkat penjagaan ketat dari Polresta Malang Kota, akhirnya aksi ricuh berakhir dan pelaksanaan eksekusi dapat berjalan dengan sukses.

"Dalam pengamanan eksekusi ini, selain melibatkan Polresta Malang Kota juga melibatkan Kodim 0833/Kota Malang. Dan pengamanan ini, atas permintaan dari Panitera PN Malang," ujar Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto saat ditemui TribunJatim.com di lokasi eksekusi, Senin (29/8/2022).

Pria yang akrab disapa BuHer ini menjelaskan, bahwa pelaksanaan eksekusi dilakukan setelah adanya penetapan dari pengadilan.

"Saya sampaikan dan tekankan, bahwa pelaksanaan eksekusi ini sudah ada penetapan dari pengadilan," tambahnya.

Baca juga: Eksekusi Pengosongan Dua Rumah di Kota Malang Diwarnai Penghadangan hingga Aksi Dorong

Dirinya pun menyayangkan, adanya kejadian ricuh antara petugas PN Malang dan sejumlah massa yang keberatan dengan eksekusi tersebut.

"Jika ada gugatan-gugatan lain, yang mana salah satu pihak merasa tidak puas dengan keputusan inkracht pengadilan, silahkan melalui gugatan hukum. Jangan menggunakan komunitas dan menggunakan cara cara preman," jelasnya.

BuHer juga menegaskan, bahwa pihaknya tidak akan memberi ruang sedikit pun terhadap premanisme di wilayah Kota Malang.

"Saya tidak memberi ruang adanya premanisme di wilayah Kota Malang. Bisa dilihat, pada saat eksekusi, banyak orang-orang yang tidak berkepentingan hadir karena telah dimobilisasi oleh oknum,"

"Lalu yang kedua, menempatkan orang yang sudah tua di lokasi rumah yang dieksekusi. Sehingga, nanti dibuat cerita bahwa eksekusi itu dilaksanakan secara keras pada orang yang terzalimi. Siapa yang terzalimi, ini kan rekayasa-rekayasa yang dibuat," bebernya.

BuHer kembali menegaskan, bahwa tidak boleh terjadi aksi premanisme di wilayah Kota Malang.

"Ini saya tekankan lagi, (premanisme) tidak boleh terjadi di Kota Malang," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved