Berita Surabaya

Pemkot Teken MoU dengan 58 Hotel, Wajib Wadahi Optimalisasi Produk Lokal Surabaya

Pemkot Surabaya serius dalam menggarap sektor UMKM, khususnya dalam hal pemasaran.

Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Bobby Constantine Koloway
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menandatangani nota kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan 58 hotel di Surabaya, Senin (12/9/20220). 

”Misalnya slipper, nanti di perjanjian akan terulis jumlah kebutuhan hotel yang hendak disuplai dari UMKM di Surabaya, harga, hingga kualitas. Pemkot bertugas untuk memberikan jaminan,” katanya.

”Kalau tidak sesuai dengan standar, bisa ditolak. Kalau kami berhasil sesuai standar, maka tolong bantu warga Surabaya,” ujarnya.

Penandatangan tersebut menjadi kali kedua setelah pada pertengahan April lalu Pemkot juga telah menjalin kerjasama dengan 46 hotel di Surabaya.

”Sudah ada sejumlah hotel yang memiliki komitmen bersama untuk membahagiakan warga. Ini akan terus kami lanjutkan,” tegasnya.

Selain itu, pemkot juga akan membuat iklim investasi di Surabaya semakin subur.

Di antaranya, perizinan yang kini bisa melalui satu dinas saja, yakni Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

”Saya sudah berkomitmen untuk memberikan kemudahan perizinan bagi pemodal yang ingin berinvestasi di Surabaya dengan memberikan jaminan ikut memberdayakan warga,” tandas Mas Eri.

Di sisi lain, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim mendukung program Pemkot dalam kerjasama ini. ”MoU ini untuk mengikat komitmen kami dalam menggunakan UMKM yang ada di Surabaya,” kata Wakil Ketua Bidang Hukum dan Legal Badan Pimpinan Daerah (BPD) PHRI Jawa Timur Rumadhono Sumanto, dikonfirmasi terpisah.

”Ada beberapa (kerjasama) yang sudah jalan. Misalnya, sandal atau slipper, pakaian, dan beberapa produk UMKM lainnya. Ini masih akan dilanjutkan dengan dinas perdagangan untuk produk-produk yang lain,” katanya.

Sekalipun demikian, pihaknya memberikan perhatian kepada kualitas produk yang nantinya dipasarkan di hotel. ”Selama ini, sudah ada produk yang sesuai dengan kualitas yang diharapkan hotel. Misalnya, pakaian jadi atau batik,” katanya.

”Namun, ada juga perbedaan spesifikasi antara pihak hotel dengan UMKM. Misalnya untuk produk slipper. Memang kualitas sudah memenuhi, namun ada hotel yang diikat dengan manajemen asing sehingga mempunyai standar yang berbeda dengan manajemen lokal,” katanya.

Untuk yang demikan, pihaknya akan membahas dalam pertemuan lebih lanjut. ”Kami selalu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata maupun Dinas Perdagangan untuk penyesuaian kualitas produk yang diinginkan manajemen hotel,” katanya.

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved