Berita Jatim

Tingkatkan Kemampuan Deteksi Dini, Ratusan Bhabinkamtibmas Polda Jatim Dilatih Bina Eks Napiter

Ratusan orang anggota Bhayangkara Pembina Kamtibmas (Bhabinkamtibmas) se-Jatim mengikuti pelatihan khusus Pembinaan dan Pengawasan Eks Napiter

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Januar
Istimewa/ TribunJatim.com
Direktur Ditbinmas Polda Jatim Kombes Pol Asep Irpan Rosadi dalam pelatihan khusus Pembinaan dan Pengawasan Eks Napiter yang digelar oleh Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Jatim, Selasa (13/9/2022), yang melibatkan ratusan orang anggota Bhayangkara Pembina Kamtibmas (Bhabinkamtibmas) se-Jatim 

Mengingat betapa beratnya menjalankan tugas pengintai (Surveilance) di tengah masyarakat. Karena nyawa menjadi taruhannya, sehingga setiap anggota Polri, berpeluang untuk menjadi korban dan atau pelaku teror.

Ia juga berpesan, agar Bhabinkamtibmas tetap waspada karena pola kaderisasi dan modus operandi kelompok teror dalam menebar pengaruhnya atau propaganda, begitu beragam dimensinya.

Mulai dari memanfaatkan sarana fisik di lapangan. Bahkan belakang kelompok teror juga memanfaatkan sarana komunikasi berbasis digital yang begitu lazim dan lumrah digunakan oleh masyarakat luas, seperti media sosial.

"Tahapan terorisme ada 3 yaitu Intoleran (pemahaman), Radikal (sikap), dan Terorisme (tindakan). Tidak semua teroris bertugas di lapangan tapi ada yang bertugas di media sosial untuk melakukan propaganda," jelas Kombes Pol Putu Gede.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi menyebutkan, seorang pelaku tindakan teror itu, tak ubahnya seorang yang tidak memiliki agama.

Karena, tidak ada agama yang mengajarkan untuk menjadi teroris. Hanya saja agama hanya kerap dipakai sebagai tunggangan para teroris untuk tujuan politiknya.

"Kita harus bisa membedakan antara terorisme dengan cara radikalisme tentang ideologi dan sparatisme menggunakan cara pendekatan preventif dan represif tentang reintegrasi (penyatuan kembali). Semua agama mengajarkan kedamaian hanya penafsiran manusia yang salah sehingga munculah pemahaman terorisme," ujar Islah Bahrawi.

Bahkan, sejumlah mantan napiter Wildan mengungkapkan, cara agar para Napiter tidak lagi terjerumus dengan ajaran dan paham beragama yang cenderung membuat diri mereka bertindak untuk melakukan aksi teror, adalah dengan memberikan kesempatan untuk menata hidup secara layak.

Yakni dengan memberikan lapangan pekerjaan layak. Agar para mantan napiter tidak lagi mendekati kelompok-kelompok lama mereka.

Hal yang bisa dilakukan oleh mantan napiter, sebagai salah satu bentuk memberikan jaminan hidup layak, salah satunya, menurut Wildan, menjadi narasumber, ataupun mitra aparatur pemerintah.

"Deteksi faham radikalisme pada remaja dan faktor pemicu radikalisme diantaranya kegagalan dalam lingkungan keluarga, bullying, mendapatkan guru yang salah," ungkap Wildan.

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved