Breaking News:

Berita Lamongan

Warga Lamongan Nekat Curi 7 Celana Dalam Milik Mantan Istri, Ngaku karena Masih Sayang

Kebahagian seorang terdakwa yang mencuri 7 celana dalam di rumah mantan istrinya, tak bisa ditutupi oleh Suedi Lukito.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Hanif Manshuri
Langkah Kejari Lamongan lewat pendekatan restorative justice (RJ) menghasilkan keputusan yang melegakan sang maling celana dalam Suedi, Kamis (22/9/2022) 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Kebahagian seorang terdakwa yang mencuri celana dalam sebanyak 7 potong dalam di rumah mantan istrinya, tak bisa ditutupi oleh Suedi Lukito.

Proses hukum Suedi sejatinya sudah berjalan hingga ke meja Kejari Lamongan. Namun langkah Kejari Lamongan lewat pendekatan restorative justice (RJ) menghasilkan keputusan yang melegakan Suedi, Kamis (22/9/2022).

Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan menghentikan penuntutan perkara tindak pencurian dengan pendekatan restorative justice (RJ).

Perkara tersangka pencurian atas nama Suedi Lukito dijerat Pasal 362 KUHP ini terus menggelinding dari penyidikan oleh Polisi hingga dilimpahkan ke meja Kejari.

"Tapi, setelah melalui pendekatan RJ, perkara ini sampai pada kesimpulan diterbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP)," ungkap Kasi Pidum Agung Rokhaniawan, Kamis (22/9/2022)


Perkara yang menjerat Suedi tersebut merupakan tindak pidana umum dan ini untuk pertama kalinya Kejaksaan Lamongan menghentikan penuntutan dengan mempertimbangkan merespon nilai-nilai keadilan dalam masyarakat.

Baca juga: Nasib Maling Motor di Surabaya yang Bermodus Pesan Makanan, Tak Bakal Tenang karena Dikejar Polisi

Proses penghentian perkara ini, ungkap Agung, dimulai dari profiling melalui tokoh masyarakat dan korban (mantan istri tersangka), yang kemudian dilanjutkan oleh Jaksa selaku fasilitator untuk memediasi perdamaian antara tersangka dan korban.


"Nah, hasil kesepakatan antara Suedi dan istri tersebut kemudian diajukan persetujuan kepada pimpinan Kejaksaan Tinggi Jatim sampai ke Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum), " katanya.

Hingga akhirnya disetujui oleh Kejagung dengan mempertimbangkan nilai-nilai keadilan pada masyarakat. Dan hasilnya lewat restorative justice atau restorasi keadilan antara kedua belah pihak yaitu korban dan terdakwa.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved