Berita Malang

Cerita Perajin Mainan Tradisional di Malang Bersaing di Tengah Gempuran Mainan Impor di Pasaran

Perajin mainan tradisional di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang tetap eksis di tengah gempuran mainan impor yang membanjiri pasaran

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/ERWIN WICAKSONO
Pengerajin mainan tradisional di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang tetap eksis di tengah gempuran mainan impor yang membanjiri pasaran. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, M Erwin Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Perajin mainan tradisional di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang tetap eksis di tengah gempuran mainan impor yang membanjiri pasaran.

Johan Untung, perajin sekaligus pemilik toko mainan tradisional Dua Putra Kepanjen, menyebut pesanan mulai meningkat pasca meredanya masa Pandemi.

"Saat ini ritme pesanan mainan tradisional mulai naik sejak pandemi Covid-19 mereda. Adanya mainan impor yang membanjiri pasar tak mempengaruhi ritme bisnis kami," ujar Johan ketika ditemui di rumahnya, Kamis (29/9/2022).

Johan menjelaskan mainan tradisional yang ia produksi ada 4 jenis. Mainan tersebut berwujud karakter barong dalam kesenian Bantengan.

"Jenisnya meliputi jambangan, rampak, barong dan kucingan. Mainan ini memang identik dengan kesenian Bantengan," beber pria yang dulunya menjadi supir angkot ini.

Johan juga bercerita awal mula dirinya alih profesi menjadi perajin mainan.

Keputusan Johan beberapa tahun lalu dipengaruhi lantaran prihatin dengan mainan anak zaman sekarang. Banyaknya peredaran mainan impor membuatnya ingin melestarikan kembali mainan tradisional.

Baca juga: Berhenti Jadi Tenaga Honorer, Pria di Blitar Raup Omzet Rp80 Juta Tiap Bulan Berkat Miniatur Truk

"Kemudian saya mengajak pemuda-pemuda di sini untuk membuat mainan tradisional hingga akhirnya berkembang seperti saat ini," tuturnya.

Keputusan dirinya beralih profesi dari pekerjaan supir angkot ia rasa tepat. Saat ini, usaha yang dikembangkan Johan dapat menerima pesanan 300 buah mainan.

"Akhir-akhir ini memang ada peningkatan. Pesanan mainan tradisional mencapai 300 mainan dalam sepekan produksi," beber pria ramah ini.

Menurut Johan, mainan tradisional yang paling laris saat ini adalah jenis Rampak.

Rampak paling diburu lantaran berharga terjangkau daripada jenis lain. Rampak berbentuk karakter barong atau naga. Cara memainkan Rampak yakni dengan membuka tuas seakan-akan karakter barong atau naga tersebut sedang membuka mulut.

Baca juga: Kenalkan Permainan Tradisional, Komunitas Kampoeng Dolanan Ajak Anak-anak Bermain di Luar Ruangan

"Jenis Rampak kecil ini harganya Rp 75 ribu. Namun untuk Rampak yang besar digunakan untuk kesenian bantengan harganya mencapai Rp 3 juta. Tergantung pada bahan dan tingkat kesulitannya," paparnya.

Johan kerap mendapat pesanan dari luar Jawa. Biasanya konsumen dari Kalimantan rutin memesan mainan tradisional bikinannya.

Sementara itu, Johan menuturkan jika proses pembuatan 10 mainan tradisional bisa memakan waktu sepekan.

"Prosesnya ada lebih dari 4 tahap. Tahap finishing yang cukup memakan waktu karena juga tergantung cuaca. Kami menggunakan bahan baku kayu sengon," terangnya.

Selama menjadi perajin, Johan mengaku mendanai modalnya secara pribadi. Pria berusia 60 tahun ini mengaku tidak pernah menerima bantuan permodalan dari pemerintah.

"Semuanya modal pribadi. Kemudian juga ditambah dari hutang dari bank," akunya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved