Berita Lifestyle

Jawa Timur Surganya Daun dan Bunga Pewarna Alami Kain, Ecoprint Daun Jati Punya Kesulitan Sendiri

Teknik pewarnaan dalam industri kain kian beragam. Tidak hanya dalam teknik membatik maupun pewarnaan mesin, beberapa cara berkonsep ramah lingkungan

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Ndaru Wijayanto
tribunjatim.com/Nur Ika Anisa
Diyah Retno tunjukan produk ecoprint daun jati berupa tas. Selain itu juga ada produk sepatu dan kain dengan pewarnaan alami. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Nur Ika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Teknik pewarnaan dalam industri kain kian beragam. Tidak hanya dalam teknik membatik maupun pewarnaan mesin, beberapa cara berkonsep ramah lingkungan kian diminati.

Sebut saja teknik pewarnaan alami dengan ecoprint. Ecoprint sendiri merupakan teknik membuat warna dengan menempelkan daun mapun bunga pada kain atau kulit.

“Nyanting agak ribet, kalau batik tulis kan kita harus meluruhkan lilin. Tapi di Ecoprint ini, kita hanya perlu mengolah kain,” kata Diyah Retno dari Galery Kreasi Nila kepada tribun jatim, Jumat (30/9/2022).

Meski terlihat mudah, teknik ini tidak sekadar menempelkan daun atau bunga pada kain atau kulit. Pemilihan kain harus dicermati lebih awal agar memudahkan proses penempelan daun dan bunga.

“Kain khusus ecoprint adalah kain katun, karena presentase kapasnya tinggi sehingga bisa menyerap tanin atau zat warna tanaman,” katanya.

Kain tersebut juga harus melalui proses skoring atau menghilangkan kotoran pada serat kain. Selanjutnya, memasukan kain pada teknik mordanting.

Teknik membumbui kain dengan beberapa bahan agar mendapatkan jejak daun yang cantik dan sempurna.

“Produksi kain cepat tapi olahan kainnya itu butuh dua hari. Memasukan bahan misal tawas, cuka, tunjung, natrium asetat yang sudah dilarutkan di air mendidih dan merendam kain bersama larutan itu butuh 30 menit sampai 2 hari,” paparnya.

Estimasi waktu tersebut untuk memastikan semua ramuan masuk ke dalam pori-pori kain. Sehingga, lanjut Diyah, nantinya jejak daun pada kain tersebut lebih bagus.

Teknik terakhir yakni menempelkan daun-daun seperti euca, kenikir, daun jati, jarak kepyar, pohon aceh dan sebagainya membentuk pola yang diinginkan. Daun-daun tersebut ditutup kain dan digulung.

“Ditempel, digulung seperti membuat lontong dan disteam dua jam. Kalau daun sudah layu nanti muncul warna alaminya di kain,” tutup Diyah.

Begitu pun untuk membuat sepatu berbahan pewarnaan ecoprint. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada prosesnya. Hanya saja,  bahan yang dipilih berbeda.

“Untuk tas dan sepatu proses sama tapi ada bahan tertentu, misal kain porinya tidak sekuat kain kanvas dan blaju. Bisa juga pakai kulit. Tekniknya hampir sama.

Setelah diaplikasikan kainnya kemudian mempola sepatunya,” tutupnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved