Tragedi Arema vs Persebaya

Malam Kelabu di Stadion Kanjuruhan: Kengerian di Pintu 13 dan 14 hingga Sakaratul Maut di Depan Mata

Dadang Indarto, seorang ASN Pemkot Batu ini menjadi satu di antara ribuan suporter yang menonton laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM/LUHUR PAMBUDI
Dadang Indarto saat bercerita di acara yang digelar KontraS, di kawasan Lapangan Rampal, Blimbing, Kota Malang, Senin (3/10/2022). DIa bercerita betapa mengerikannya suasana di Kanjuruhan 

Kantung air mata Dadang jebol juga pada akhirnya, saat dirinya menceritakan bagaimana pilunya saat berusaha mencari dan menolong setiap orang yang terkapar di sana.

Dadang berusaha mengevakuasi seorang korban yang semula dikiranya masih hidup. 

Ternyata ia salah, si korban yang ditolongnya itu, sedang sekarat, saking parahnya, sebelum tiba di area terbuka, si korban sudah tak bergerak. 

"Saya lari lagi ke arah tribun untuk membantu teman teman, yang masih berdesak-desakan, padahal saat itu saya sudah bisa keluar, dan sudah lama itu," jelasnya. 

"Hanya satu pintu, mereka berdempetan keluar, ada yang berdarah anak bojo, saya gendong dengan teman saya dari Lampung, sampai sakaratul maut atau meninggal di depan saya. Akhirnya saya letakkan jenazah itu, dan saya ke jenazah teman saya dona itu, lalu mencari bantuan polisi. Dan di situ polisi ada yang membantu," tambahnya. 

Dadang berupaya membawa setiap orang yang terkapar itu ke dalam ruangan VIP. Sesampainya di ruang tersebut, ia mengira hanya ada hitungan jari orang-orang yang terkapar tak bergerak di sana. 

Namun setelah ia mencoba melongok ke beberapa sudut area di dalam ruang tersebut. Ternyata, jumlah suporter yang terkapar tak bergerak berjumlah lebih dari hitungan jemari kedua tangannya. 

Para korban itu, dibaringkan sejajar memenuhi ruangan, laiknya 'ikan pindang' yang dikemas pada rak pembungkus berbahan anyaman bambu. 

"Kemudian saya minta tolong mengangkat Jenazah ke ruang VIP. Setelah tiba di VIP saya pikir jenazah hanya 4 (korban), ternyata di situ sudah ada 3, (yakni) 1 polisi, 2 jenazah perempuan, saya pikir hanya 7, lalu saya keliling di daerah tribun itu, innalillahi wainnailaihi raji'un, di musala VIP jenazah kayak pindang," terangnya, seraya mengusap air matanya. 

Dari kengerian itu, Dadang secara tegas menyebut, pelontarkan gas air mata di tengah tribun yang masih penuh dengan suporter wanita dan anak-anak itu, merupakan aksi berlebihan yang dilakukan oleh aparat. 

"Dan apa yang dilakukan kepolisian, saya kira sepakat, itu sangat berlebihan, sangat berlebihan. Sudah, Aremania itu suporter yang ngerti dan cerdas, cukup dibilangi, gak perlu dikasih kekerasan dan tembakan gas air mata," ungkapnya. 

Selain itu, Dadang juga menyayangkan pihak penanggung jawab stadion tidak membuka semua pintu stadion, pada saat laga tersebut usai. 

"Yang saya sayangkan, stadion Kanjuruhan, tidak berbenah setelah peristiwa Persib dulu yang hanya 1 korban meninggal dunia, itu pun di RS, warga Kepuh. Kenapa tidak. Membuat jalur evakuasi," tegasnya. 

"Kedua, kenapa pintu itu ditutup, apakah memang sudah ada rencana untuk pembunuhan massal. Saya juga meminta PSSI PT LIB, saya juga sudah memiliki bukti, pihak panpel sudah punya surat permohonan perubahan jam tayang, jawaban PT LIB, jam pertandingan tetap 20.00 padahal itu pertandingan sangat rawan," pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved