Berita Terkini

Kowani Minta Proses Belajar Anak Korban Gempa Cianjur di Pengungsian Tetap Berjalan

Gempa 5,6 SR yang melanda wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) mengundang empati banyak pihak.

Editor: Januar
Istimewa/ TribunJatim.com
Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd meninjau korban gempa Cianjur di pengungsian. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gempa 5,6 SR yang melanda wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) mengundang empati banyak pihak.

Termasuk Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang merupakan organisasi federasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia.

Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo mengaku prihatin dan turut berduka cita dengan bencana gempa Cianjur. Mengingat banyaknya korban jiwa dan rusaknya rumah warga, sehingga warga harus tinggal di pengungsian.

"Banyaknya korban jiwa dan kerusakan fisik tentu membuat kita prihatin. Namun, kami mengimbau agar proses belajar mengajar tidak boleh terhenti, sekalipun dalam kondisi terbatas," tutur Giwo dalam keterangannya, Rabu (23/11/2022).

Giwo menegaskan hak anak untuk mendapat pendidikan tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun. Bila perlu para guru didatangkan ke tenda-tenda pengungsian untuk berjalannya proses pendidikan.

Menurutnya, sekolah juga bagus untuk mengurangi traumatik anak dari bencana gempa. Sebab dengan adanya aktifitas belajar, anak tak larut dalam kesedihan pasca gempa.

"Dengan berjalannya proses belajar-mengajar, anak tak larut dalam kesedihan. Para guru juga bisa menghibur dan memberi motivasi pada anak-anak. Saya kira ini juga bagian dari trauma healing," ujar Putri Ayu 1981 ini.

Baca juga: Relawan Temukan Buku Hafalan 10 Santri Naik Angkot Korban Gempa Cianjur, Bau Menyengat Jadi Petunjuk

Giwo bersama sejumlah pengurus Kowani sudah meninjau langsung lokasi pengungsi korban gempa. Selain membawa sejumlah bantuan, pihaknya juga memberi perhatian khusus pada pengungsi perempuan dan anak.

Dari hasil peninjauan ke lokasi pengungsian, Giwo memberi catatan khusus terkait masih bercampurnya pengungsi perempuan dan pria dalam satu tenda. Ia berharap pengungsi pria dewasa dipisahkan dengan pengungsi perempuan dan anak, kecuali masih dalam satu keluarga.

"Dalam kondisi bencana sekalipun perlindungan terhadap perempuan dan anak harus tetap diperhatikan," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2004 - 2007 tersebut.

Untuk diketahui, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari ini mencatat, 271 korban dinyatakan meninggal dunia. Sementara 40 jiwa masih dinyatakan hilang dan 2.043 warga luka-luka. Sedangkan, warga mengungsi sebanyak 61.908 jiwa. Sampai saat ini masih terjadi sejumlah gempa susulan dengan skala yang lebih kecil.

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved