Sidang Tragedi Kanjuruhan

Datangi PN Surabaya, Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Tuntut Keadilan: 135 Itu Nyawa, Bukan Angka

Rini Hanifah, ibunda salah satu korban Tragedi Kanjuruhan Malang bernama Agus Riansyah datangi Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (16/1/2023).

Penulis: Khairul Amin | Editor: Ndaru Wijayanto
tribunjatim.com/khairul amin
Rini Hanifah, ibunda salah satu korban Tragedi Kanjuruhan Malang bernama Agus Riansyah tunjukkan foto mendiang putranya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (16/1/2023). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Khairul Amin

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Rini Hanifah, ibunda salah satu korban tragedi Kanjuruhan Malang bernama Agus Riansyah datangi Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (16/1/2023).

Kehadirannya jauh-jauh dari Pasuruan untuk menuntut keadilan dalam sidang perdana Tragedi Kanjuruhan yang digelar di PN Surabaya hari ini.

"Saya berangkat sendirian, sampai sini pukul 09.15 Wib, kebetulan ada keluarga di Dupak deket dari sini," kata Rini di PN Surabaya.

"Saya datang ke sini untuk menuntut keadilan anak saya, anak saya meninggal secara tragis, dibantai secara biadab, anak saya itu nonton bola, bukan anarkis. Anak saya cari hiburan di sana, bukan demo-demo, terus dibantai kayak hewan, gimana hancurnya perasaan orang tua, dia berangkatnya pamit sehat, pulang mayat," tambahnya penuh emosional.

Ia menceritakan jika Tole, sapaan akrab mendiang anaknya, waktu itu berangkat dengan teman-temannya, berpamitan menyaksikan laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Baca juga: Sidang Perdana Tragedi Kanjuruhan, Kapolrestabes Surabaya Pastikan Aremania Tak Hadir di PN Surabaya

Baca juga: Sidang Perdana Tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya Dijaga Ketat, Ada Penyekatan di Batas Kota

"Harus dihukum seadil-adilnya, 135 itu bukan cuma angka lho ya, itu nyawa, nyawa yang tak berdosa, nyawa yang tak ngerti ini-itu, kenapa kok dibantai pak, seandainya itu anak bapak gimana," tambah Rini Hanifah.

Ia juga menyampaikan sedikit keberatan karena sidang kasus Tragedi Kanjuruhan digelar di Surabaya, padahal kejadiannya di Malang, dimana mayoritas korban berasal dari Malang.

"Tidak setuju karena kan jauh, sangat jauh dari Malang. Kami sebenarnya sudah meminta sidang di Malang, ini jadi tanda tanya buat saya," pungkasnya

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved