Harga Telur Anjlok
Peternak Mengeluh Harga Telur Anjlok, DPRD Jatim Soroti Dugaan Permainan Distributor
Anjloknya harga telur di tingkat peternak, harus disikapi secara serius oleh pemerintah.
Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- DPRD Jawa Timur mendesak pemerintah dan Satgas Pangan segera turun tangan menyikapi anjloknya harga telur di tingkat peternak.
- Harga telur dari kandang hanya berkisar Rp 21.500 hingga Rp 22.500 per kilogram, sementara di pasar masih dijual Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu.
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Anjloknya harga telur di tingkat peternak, harus disikapi secara serius oleh pemerintah.
DPRD Jatim pun mendorong agar Satgas Pangan turun tangan guna memastikan tidak ada permainan harga yang merugikan peternak.
Disisi lain, program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga diharapkan bisa menyerap telur dengan optimal.
Anggota Komisi B DPRD Jatim Erma Susanti mengungkapkan, penyebab anjloknya harga telur di tingkat peternak harus segera dicari. Apakah karena over supply atau ada permainan harga.
Sebab, di pasar harga telur masih berkisar Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu. Angka tersebut jauh dari harga yang didapat oleh peternak.
Baca juga: Nasib Guru Honorer di Tahun 2027 Jadi Bahasan Serius DPRD Jatim & Pemprov, Susun Pola Uji Kompetensi
Dari penjelasan peternak, harga dari kandang hanya di kisaran Rp 21.500 hingga Rp 22.500.
"Tentunya harus dicari penyebabnya apakah karena over supply atau permainan harga. Bisa jadi yang mendapatkan margin tinggi adalah pemain tengah atau distributor, sehingga satgas pangan harus turun inspeksi," kata Erma kepada TribunJatim.com saat dikonfirmasi dari Surabaya, Minggu (24/5/2026).
Penelusuran dari Satgas Pangan ini dinilai sangat penting guna memastikan langkah lanjutan yang harus diambil oleh pemerintah.
Jika ada permainan harga maka harus dilakukan penanganan.
Baca juga: DPRD Jatim Nilai Desa Wisata Mampu Dongkrak UMKM dan Tumbuhkan Lapangan Kerja
Sementara jika anjloknya harga telur ini lantaran over suplai, hal ini menandakan bahwa pemerintah tidak memberikan pendampingan dan pembinaan terhadap peternak.
Yakni, terkait dengan neraca Supply and demand atau penawaran dan permintaan.
"Karena tentunya bisa diprediksi neraca telor, apalagi konsumsi MBG sangat bisa diprediksi berapa kebutuhan atau penyerapan MBG," jelas politisi yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung tersebut.
Rendahnya harga telur di tingkat peternak ini, dikeluhkan di tengah harga pakan yang tetap tinggi.
Kondisi ini dipahami oleh DPRD Jatim. Menurut Erma, untuk menyelamatkan peternak dari kerugian besar, maka perlu ditinjau terkait subsidi jagung. Tujuannya, agar sasaran dan jumlahnya diperbanyak
"Karena situasi sekarang dengan angka pengangguran tinggi, maka kontraksi pada peternak akan lebih mempersulit keadaan," tandas Erma
| Sosok Gus Hilman, Anggota DPR RI Asal Pasuruan Selamat dari Kecelakaan Maut, 2 Stafnya Meninggal |
|
|---|
| Alasan Dua Pelaku Bagi Tugas Sebarkan Teror Pocong Berdiri di Gang Gelap, Kini Diringkus Polisi |
|
|---|
| Liverpool dan Dortmund Incar Camavinga, Real Madrid Rela Jika Ditebus 80 Juta Euro |
|
|---|
| Rocky Gerung Singgung Peran Tan Malaka, Hingga Kritik Pemimpin Malah Tunduk pada Donald Trump |
|
|---|
| Arema FC Women Dominasi U-15, Tigers Football Academy Rajai U-18 di Surabaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Anggota-Komisi-B-DPRD-Jatim-Erma-Susanti-saat-hadir-di-Studio-TribunJatim-Network.jpg)