Apa itu Bediding? Fenomena Dingin yang Terjadi pada Musim Kemarau Mulai Juni hingga Agustus
Fenomena bediding menyebabkan suhu udara di Indonesia terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
Ringkasan Berita:
- Fenomena bediding menyebabkan suhu udara di Indonesia terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
- BMKG menegaskan bediding merupakan fenomena musiman normal saat musim kemarau dan bukan cuaca ekstrem.
- Penyebab utama meliputi langit cerah tanpa awan, kelembapan rendah, serta pengaruh Angin Monsun Australia.
TRIBUNJATIM.COM - Sejumlah wilayah di Indonesia mulai merasakan udara yang lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
Kondisi ini dikenal dengan istilah Bediding, sebuah fenomena yang umum terjadi saat musim kemarau.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bediding bukan termasuk cuaca ekstrem.
Fenomena ini merupakan kondisi musiman yang terjadi hampir setiap tahun, terutama pada pertengahan musim kemarau.
Menurut BMKG, suhu udara terasa lebih dingin karena langit cenderung cerah dan tutupan awan berkurang.
Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan ke atmosfer saat malam, sehingga suhu udara menurun.
Mulai Dirasakan di Bulan Juni hingga Agustus
Fenomena bediding biasanya mulai dirasakan pada Juni dan dapat menjadi lebih kuat pada Juli hingga Agustus.
Kondisi ini kerap terjadi di sejumlah daerah, terutama wilayah dataran tinggi dan kawasan yang memiliki udara relatif kering.
Meski membuat suhu terasa lebih dingin dari biasanya, bediding merupakan fenomena alam yang normal dan tidak perlu dianggap sebagai tanda cuaca ekstrem.
Lalu, faktor apa saja yang menyebabkan fenomena bediding bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Rabu 10 Juni 2026, Mayoritas Daerah Cerah Berawan, Tapi Tetap Waspadai Perubahan
Baca juga: Daftar 6 Provinsi yang Diwaspadai BMKG soal Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan Imbas El Nino
Penyebab Terjadinya Bediding
Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan, rasa dingin yang menguat pada malam hingga pagi hari, hanya terjadi di wilayah yang kondisi langitnya cerah, kelembapan udara rendah, dan curah hujannya berkurang.
Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menyampaikan hal senada.
Dia menilai, ada beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya fenomena bediding.
“Di antara penyebab itu adalah karena adanya Angin Monsun Australia dan posisi matahari yang berada di sisi utara bumi,” tuturnya dilansir dari Kompas.com (11/7/2026).
Bediding
musim kemarau
cuaca ekstrem
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
BMKG
Tribun Jatim
TribunJatim.com
jatim.tribunnews.com
| Dari Puasa hingga Numpang Sekretariat, Cara Mahasiswa Sumenep Bertahan Kuliah saat Harga Beras Naik |
|
|---|
| Tak Penuhi Nafkah Pascaperceraian, NIK Para Mantan Suami di Surabaya Bisa Tertahan dalam Sistem |
|
|---|
| Jadwal dan Cara Daftar SPMB Jatim 2026 SMA SMK Jalur Domisili, Lengkap Mekanisme Seleksi |
|
|---|
| Ramalan Cuaca Jatim Rabu 10 Juni 2026, Mayoritas Daerah Cerah Berawan, Tapi Tetap Waspadai Perubahan |
|
|---|
| Pemprov Jatim Ajukan Penambahan 2.268 Hektare Tahura Raden Soerjo untuk Lindungi Sumber Mata Air |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Ilustrasi-cuaca-dan-fenomena-bediding-yang-muncul-saat-musim-kemarau.jpg)