Hari Kemerdekaan RI
Meski Asal Jepang, Ini Alasan Laksamana Maeda Izinkan Rumahnya Dipakai untuk Siapkan Proklamasi
Mengapa seorang warga Jepang dan memegang pejabat tinggi, bisa merelakan rumahnya untuk menyusun naskah proklamasi?
Penulis: Alga | Editor: Adi Sasono
TRIBUNJATIM.COM - Setiap 17 Agustus, Indonesia memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan.
Kemerdekaan bagi Indonesia diperoleh melalui berbagai perjuangan banyak pihak.
Saat memproklamasikan kemerdekaan, Indonesia sedang dijajah Jepang.
• Potret Ghina Raihanah, Anggota Paskibraka Cantik Adik Tsania Marwa yang Jarang Disorot Media
Jepang sendiri sudah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun.
Meski begitu, mengapa seorang warga Jepang dan memegang pejabat tinggi, bisa merelakan rumahnya untuk menyusun naskah proklamasi?
• VIRAL: Beredar Video Pemuda Seret dan Ceburkan Wanita Tua Diduga Ibunya ke Sungai Lalu Ditinggal
Dilansir TribunJatim.com dari Intisari.grid.id, pada masa menjelang kemerdekaan, antara golongan Soekarno-Hatta dan pemuda ada perbedaan pendapat tentang unsur Jepang.
Golongan pemuda menolak sama sekali kemungkinan adanya kesan seakan-akan kemerdekaan yang akan diproklamasikan adalah 'hadiah' dari Jepang.
Golongan Soekarno-Hatta juga tetap bersandar pada kekuatan sendiri.
Memandang unsur kekuatan Jepang yang masih ada, sebagai realitas yang tak dapat diabaikan, untuk menyusun organisasi dan kekuatan revolusi selanjutnya.
• Selain Gara-gara Anjing, Pengacara Buka Alasan Lain Yeslin Wang-Delon Idol Pisah Rumah sampai Cerai
Di antara pejabat-pejabat tinggi Jepang sendiri, tokoh Laksamana Maeda dari Kaigun sungguh menarik.
Oleh sejarawan Belanda HJ De Graaf, Laksamana Maeda dilukiskan sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang lebih banyak melihat dunia dalam tugasnya, lebih luas, dan lebih terang pandangannya terhadap situasi yang sebenarnya, daripada perwira-perwira Angkatan Darat.
• 6 Fakta Meninggalnya Calon Anggota Paskibra Siska Susanti Usai Latihan, Inilah Penyebab Sebenarnya
Sayuti Melik sendiri tertarik oleh sikap suportif Laksamana Muda Maeda menjelang proklamasi.
Meski begitu, sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang banyak makan garam, Sayuti Melik tak lantas percaya akan sikap baik perwira tinggi itu.
Sayuti Melik pun mencari motifnya.
Motif yang ia peroleh dari Laksamana Maeda begitu manusiawi, sehingga Sayuti Melik dapat menerimanya.
• Masih Ingat Si Gemas Dulce Maria? 18 Tahun Berlalu, Nasib dan Penampilannya Sekarang Berubah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/laksamana-maeda_20180816_170615.jpg)