Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Pilpres 2019

Menjauhkan Nasionalisme, Khofifah Tak Setuju Debat Capres Pakai Bahasa Inggris

Khofifah Indar Parawansa menyatakan tidak setuju Debat Capres memakai Bahasa Inggris, karena menjauhkan nasionalisme.

Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Mujib Anwar
SURYA/FATIMATUZ ZAHROH
Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri pergelaran wayang kulit bersama Ki Dalang Slamet Plendik di halaman Gedung Astra Nawa, Surabaya, Sabtu (18/8/2018) malam. 

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Khofifah Indar Parawansa mengaku tidak sepakat dengan usulan DPP PAN yang menyampaikan ada sesi bahasa Inggris dalam debat Capres dan Cawapres di Pilpres 2019

Mantan Menteri Sosial kabinet Joko Widodo ini menganggap, debat berbahasa asing akan membuat warga masyarakat Indonesia semakin jauh dari nasionalisme. 

"Kita ini hidup di Indonesia. Debat itu tujuannya menyampaikan ide, gagasan,  program,  agar masyarakat Indonesia paham bahwa kita sedang perproses.  Menurut teman-teman kalau debatnya dalam bahasa inggris, yang paham siapa?" tanya Khofifah balik pada awak media saat diwawancarai di Unipdu Jombang,  Sabtu (15/9/2018).

Menurut Khofifah, jika konteksnya berpidato dalam bahasa inggris, di khalayak umum bukan masalah.  Namun untuk debat capres dan cawapres harus dilihat kembali tujuannya.

Dimana tujuan utamanya adalah menyampaikan visi misi,  debat program,  dan menyampaikan breakdown program,  maka menurutnya harus dibuat sejelas mungkin. 

"Jangan kemudian rakyat menjadi asing dari apa yang diharpkan kepada sosok calon pemimpin mereka. Kita punya bahasa Indonesia ya pakai Bahasa Indonesia dong. Kecuali ada negara yang tidak punya bahasa nasional," tambah Gubernur Jatim terpilih periode 2019 -2024.

Sehingga menurut gubernur terpilih yang berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak ini, format debat tidak baik jika dibuat rumit. 

"Jangan jauhkan nasionalisme dari bumi Indonesia," tandasnya. 

Lain halnya jika ada debat dalam konferensi internasional.  Maka berbicara dan debat dalam bahasa asing memang dibutuhkan. 

Tapi jika untuk debat publik memilih pemimpin maka menurut Khofifah masyarakat butuh untuk mengukur.  Masyarakat juga butuh pemahaman dan kenyamanan dalam seluruh debat publik dimana para calon menyampaikan visi dan misi mereka. 

"Kalau pakai bahasa inggris nanti nggak komprehwnsif.  Pakai bahasa resmi sajalah,  pakai bahasa Indonesia," pungkas Khofifah(fatimatuz zahroh)

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved