Kisah Tiga Arek Tumpang Malang Juarai Kejurnas Selam
Secara geografis, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang memang bukan jauh dari pesisir lautan luas. Namun, hal tersebut bukan jadi penghalang
Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Secara geografis, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang memang bukan jauh dari pesisir lautan luas. Namun, hal tersebut bukan jadi penghalang bagi tiga siswa SMAN 1 Tumpang, berprestasi dalam olahraga selam air.
Kerja keras Vania Putri Haryoko, Rz Hamdani Fadlika, dan Danu Khyarol Qisti berbuah manis. Ketiganya menyabet mendali emas pada kejuaraan selam tingkat nasional.
Pencapaian yang didapat di masa kini, adalah implikasi dari kegigihan di masa lalu. Itulah yang tergambar dari salah satu dari ketiga atlet berprestasi, Vania.
Vania tampaknya tak bisa melupakan awal mula mengenal olahraga selam air, sejak bangku SD kelas III. Saat itu, orang tuanya memberi andil besar dalam menemukan bakat putrinya. Atas dukungan orang tua, gadis asli Malang 9 Januari 2003 silam itu akhirnya memantapkan diri untuk bergabung dengan klub renang sejak.
“Dulu awalnya karena senang saja main di air. Lalu orang tua menyarankan untuk serius sekalian, jadi mulai belajar di klub,” terang gadis penghobi renang itukepada Tribunjatim.com.
Seiring waktu berjalan, Vania mengaku nyaman dengan kegiatan olahraganya. Hingga akhirnya mengikuti berbagai kompetisi.
Beberapa yang paling membanggakan adalah saat mengikuti Kejurnas Finswimming 2016 di Jakarta dengan perolehan 3 emas, Kejurnas Finswimming 2017 di Bandung dengan perolehan 4 emas, Kejurnas Finswimming Open 2017 di Manado dengan 2 Emas, dan Kejurnas Finswimming 2018 di Bali dengan perolehan 4 emas.
Terbaru, tanggal 17 Maret lalu Vania juga membawa pulang dua medali perak dan tiga medali perunggu dalam Kejurda Finswimming nomor kolam di Surabaya. Pencapaian tersebut mengantarkannya berlenggang pada olimpiade olahraga siswa nasinal O2SN 2019.
Saat lomba, Vania turun di 8 sampai 10 kategori sekaligus yakni kategori 50 meter, 100 meter, 400 meter, 800 meter, dan 1000 meter. Kategorinya, surface dan bifin.
Di sisi lain, Danu dan Dika lebih banyak turun pada kompetisi orientasi bawah air atau OBA.
• Ini yang Akan Dilakukan Persatu Usai Dipermalukan Persewar Waropen di Kandang
• Ingin Punya Anak, Ajun Perwira dan Jennifer Supit Jalani Program Kehamilan Bayi Tabung
• Buku Karya Tiga Santri Lamongan Kupas Indahnya Hidup di Pesantren
Kompetisi OBA mengharuskan atlet menyelam dikedalamam laut secara langsung. Sederet capaiam medali dari kompetisi selam ditingkat nasional maupun daerah, pun digaetnya.
Yakni, kuara 3 kategori estafet bifin dalam Kejurnas Gubernur Jawa Timur 2018. Juara 3 Kejurnas OBA 2019 kategori m course junior putra, dan Juara 1 Kejurda OBA 2019 kategori m course junior putra.
Kemudian, yang terbaru Danu juga menjuarai Kejurda OBA 2019 kategori 5 point course junior putra yang diselenggarakan di Pantai Pasir Putih Situbondo.
“Paling beresiko waktu di Situbondo kemarin pernah sampai terbawa arus. Resiko lainnya yang paling menghantui atlet OBA yakni tersengat ubur-ubur. Setiap turun pasti kena, lumayan panas dan gatal,” kenang Danu dan Dik kepada Tribunjatim.com.
Dika menuturkan, kompetisi selam orientasi bawah air (OBA), para atlet biasanya akan diminta untuk menjalankan misi dengan mencari pipa paralon berwarna hijau dikedalaman tertentu dibawah laut.Untuk kategori five point course, para atlet tersebut diminta untuk menggoyangkan pipa begitu menemukan target.
Jarak dari start ke rambu pertama 80 meter, dan selanjutnya bertambah menjadi 100 meter, 120 meter, 150 meter, dan 500 meter untuk sampai ke rambu kelima. Kedepan, ketiga atlet itu ingin pada kompetisi selam baik tingkat nasional maupun internasional. (ew/Tribunjatim)