Tanah dan Bunga Makam Gus Dur Jadi Incaran Peziarah

Sebelum makam Alm KH Abdurrahman Wahid diberi pembatas pagar, para peziarah kerap bertingkah aneh.

Tayang:
Penulis: Sundah Bagus Wicaksono | Editor: yulis sulistyawan
TRIBUNJATIM.COM / SUNDAH BAGUS WICAKSONO
Makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berada di komplek Pondok Pesantren Tebu Ireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek Jombang, Jawa Timur. 

Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Manik Priyo Prabowo dan Sundah Bagus Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Sebelum makam Alm KH Abdurrahman Wahid diberi pembatas pagar, para peziarah kerap bertingkah usil.

Ada yang mengambil sejumput tanah makam atau bunga yang ditabur di atas pusara makam Presiden ke-4 RI ini yang disemayamkan di komplek Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

TribunJatim.com mendatangi makam Gus Dur akhir pekan lalu.

Terpantau ratusan orang dengan penuh semangat dan khusyuk mendoakan Gus Dur dari sebuah pendopo berpagar yang langsung menghadap ke makam Gus Dur.

Gus Dur meninggal dunia pada 30 Desember 2009. Sejak meninggal hingga saat ini, makam Gus Dur masih berupa gundukan tanah. Di samping kanan-kiri makam, tanah dilapisi conblock agar tidak licin.

Para peziarah d makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
Para peziarah d makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (TRIBUNJATIM.COM/MANIK PRABOWO)

Kompleks pemakaman keluarga itu berukuran sekitar 400 meter persegi dan berjarak sekitar 300 meter dari Masjid Ulil Albab yang ada di dalam kompleks pesantren.

Selain makam Gus Dur, terdapat puluhan makam. Tiga makam terlihat dekat makam Gus Dur. Di antaranya makam kakek dan ayah Gus Dur, KH Hasyim Asyari dan KH Wahid Hasyim.

Posisi makam ini berurutan dari atas ke bawah. Sehingga lokasi makam Gus Dur tidak bersebelahan persis di kiri kanan makam kakek dan ayahnya.

Urutan paling atas adalah makam KH Hasyim Asyari. Di papan nisan makam ini tertera tahun kelahiran pendiri Nadlatul Ulama itu yakni 1871 dan wafat tahun 1947.

Di bawah makam KH Hasyim Asyari adalah makam KH Wahid Hasyim yang lahir tahun 1914 dan wafat tahun 1953. Setelah itu disusul di bawahnya makam Gus Dur.

Sebelum Gus Dur dimakamkan, peziarah bisa langsung mendekat ke lokasi makam kakek dan ayah Gus Dur. Begitu pula setelah Gus Dur dimakamkan, peziarah dulunya bisa mendekat langsung ke makam.

Pengurus Pondok dan Makam Teuku Azwani mengisahkan, ketika belum dipasang pagar pembatas, peziarah melakukan hal yang dianggapnya bisa membawa berkah yakni mengambil tanah atau bunga yang ditabur di atas makam Gus Dur.

"Sewaktu masih bisa langsung bisa pegang tanah makam, peziarah ada yang mengambil tanah makam. Ada yang secuil, segenggam dan ada yang sebakul," ujar Teuku Azwani.

Makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
Makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (SURYA)

Peziarah memercayai akan adanya rahmat dan hidayah jika membawa pulang tanah atau bunga dari makam Gus Dur.

Para pengurus Ponpes maupun makam sudah berulangkali mengingatkan bahwa pengambilan tanah dan bunga ini adalah musyrik.

Namun peringatan tersebut tetap saja tak diperhatikan dan pengambilan tanah terus berulang.

Alhasil, tanah makam lama-lama semakin berkurang. Pihak Ponpes Tebu Ireng dan pengelola makam, hampir setiap hari harus menambal tanah yang diambili peziara.

Lantaran tanah yang kerap diambili peziarah dan ditutup lagi oleh pengelola,kondisi makam jadi labil. Sehingga pernah terjadi sekitar Februari 2011, bagian makam Gus Dur ada yang amblas ke bawah lantaran tanah kerap diambili peziarah.

Sejak saat itulah, pihak Ponpes Tebu Ireng memutuskan agar peziarah diberi jarak dari makam agar tak lagi mengambil tanah atau bunga.

Makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
Makam Alm KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (SURYA)

"Sampai sekarang ini masih ada yang meminta penjaga makam agar mengambilkan tanah dan bunganya," tambah Teuku Azwani yang sudah 14 tahun menjadi pengelola di Pesantren Tebu Ireng ini.

Agar peziarah bisa khusuk mendoakan alm Gus Dur, keluarga juga membangun mirip pendopo yang cukup besar dengan kapasitas ratusan orang.

"Sekarang pintu masuk peziarah ada sendiri dan pihak keluarga maupun pesantres juga ada pintu tersendiri. Jadi sejak tiga tahun lalu peziarah sudah tertib dan nyaman untuk berdoa," paparnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved