Kampus di Surabaya
Guru Besar Unair, Prof. Dyson Meninggal, Ini Dia Sosoknya Dimata Mahasiswanya: Perhatikan Kerapian
Sekumpulan anak muda memakai kemeja, sebagian lagi menggenakan jaket duduk diantara orang tua dan tamu lain di ruang VIP Yayasan Adi Jasa.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Edwin Fajerial
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sekumpulan anak muda memakai kemeja, sebagian lagi menggenakan jaket duduk diantara orang tua dan tamu lain di ruang VIP Yayasan Adi Jasa, Kamis (29/6/2017).
Satu sama lain bercerita tentang sosok Prof Dr Laurentius Dyson Penjalong MA, Guru Besar Unair yang disemayamkan di ruangan tersebut.
Ahmad Muzakki (26) alumni Program Studi Antropologi Unair mengungkapkan sosok Prof Dylon sapaan akrabnya yang ia kenal mampu menciptakan suasana tegang pada 10 menit pertama kelasnya.
Ia sangat disiplin tentang keterlambatan mahasiswa, selama 10 menit prof Dylon juga berkeliling kelas memastikan mahasiswanya memakai pakaian rapi dan bersepatu.
“Kalau telat nggak boleh masuk, kerapian seperti sandal pasti dilihat sampai ke bangku paling belakang, baru kemudian ngobrolin ke seharian beliau yang disambungin ke materi,” jelas pria yang sempat diuji Prof Dyson ketika skripsi ini.
Baginya, dosen Unair sejak 1980 tersebut merupakan seorang yang Egaliter. Yaitu menyamakan semua mahasiswa yang diajarnya, baik Sarjana ataupun pasca sarjana. Bahkan hafal setiap nama, wajah hingga julukan mahasiswanya.
“Meskipun profesor tapi ngobrol dengan mahasiswa S1,S2 ataupun S3 santai. Kalau kataku kami saat nongkrong gitu ya nyapa manggil nama panggilan kami,”lanjutnya.
Perhatian Prof Dyson sebagai pengajar juga ia rasakan ketika menjelang ujian tiap semester bahkan saat sidang skripsi.
Kalaupun mahasiswanya melakukan kesalahan, Prof Dyson selalu mengarahkan dengan cara sendiri.
“Pernah jadi dosen penguji saya, bilangnya itu saya sebenarnya bisa cuma tulisannya belum tertata, tidak frontal ngomong sama mahasiswa,”pungkasnya.
Hal yang sama juga dirasakan Dias Mahadi (25), mahasiswa jurusan Antropologi Unair yang sempat mengikumengikuti kelas Prof Dyson selama enam semester.
Mulai dari Teori Antropologi, Antropologi Psikologi Psikiatri, Kebudayaan Klasik Islam Indonesia, Kognitif, Metode Etnografi, hingga Agama Katolik 1 dan 2.
“Pembawaannya beliau asyik, fenomena baru tidak seperti seusianya. Gaya bicaranya santai dan nyletuk, sering membawa keluar topik untuk menghilangkan jenuhi mahasiswanya,”kenangnya.
Ia juga ingat sosok Prof Dylon yang selalu menghampiri mahasiswanya ubtuk sekedar memotivasi dengn berbagai kegiatannya.
Sehingga bisa saling bertukar kabar dengan mahasiswanya.
Jasad Prof Dyson, sapaan akrabnya di semayamkan sejak pukul 14.30 WIB setelah dinyatakan meninggal di Graha Amerta RSUD Dr Soetomo, Rabu (28/6/2017) malam. Rencananya, jasad akan dimakamkan di TPU Keputih pada Sabtu (1/7/2017). (Surya/Sulvi Sofiana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-dyson-meningga_20170630_003714.jpg)