Bila Anda Menemukan Seragam Sekolah Merek 'Abidin' di Pasaran, Inilah Sosok Penciptanya

Warti Syahroni (50), wanita asal Jalan Dupak Bandarejo 3 nomor 23a, Surabaya, Jawa Timur ini merupakan seorang pengusaha konveksi seragam sekolah

Tayang:
Penulis: Pradhitya Fauzi | Editor: Dwi Prastika
TRIBUNJATIM.COM/PRADHITYA FAUZI
Warti Syahroni (50), wanita pengusaha konveksi seragam sekolah merk "Abidin" 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pradhitya Fauzi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Warti Syahroni (50), wanita asal Jalan Dupak Bandarejo 3 nomor 23a, Surabaya, Jawa Timur ini merupakan seorang pengusaha konveksi seragam sekolah sejak tahun 1990.

Produksi konveksi miliknya membunyai merek seragam sekolah bernama "Abidin."

Sebelum ia membuka rumah konveksi seragam yang mempekerjakan 25 orang itu, ia sempat bekerja menjadi penjahit di sebuah rumah industri konveksi selama beberapa tahun.

"Dulu pernah ikut orang, kerja beberapa tahun waktu itu, untuk ambil pengalamannya saja. Setelah itu kebetulan ada modal dan coba buka sendiri," terang Warti, Jumat (7/7/2017).

Baca: Jelang Tahun Ajaran Baru, Pengrajin Seragam Sekolah Ini Kebanjiran Order Hingga Dua Kali Lipat

Di tengah perjalanannya setelah keluar dari pekerjaannya di konveksi 'Purnama' beberapa tahun silam, ia mengaku sempat bingung saat ingin memberi label pada produksinya sendiri.

"Kalau merek yang dipesan pemborong kan 'Best Student' dan 'Purnama,' nah yang khusus buatan saya sendiri ini bingung mau kasih nama apa," cerita Warti.

Menjelang tahun ajaran baru, permintaan pembuatan seragam sekolah makin tinggi, Jumat (7/7/2017).
Menjelang tahun ajaran baru, permintaan pembuatan seragam sekolah makin tinggi, Jumat (7/7/2017). (TRIBUNJATIM.COM/PRADHITYA FAUZI)

Akhirnya Warti berinisiatif menggunakan ketiga nama buah hatinya.

"Terpikir nama-nama anak saya, kalau saya pakai satu nama yang lain nanti iri. Jadi tiga nama saya gabungkan jadi merek 'Abidin' yang kepanjangan dari Andik, Abit, dan Udin," lanjutnya.

Dalam kesehariannya, ia beserta tiga putranya yang telah dewasa dan 25 pegawainya memproduksi seragam sekolah.

Baca: Wow! Orang Ini Jadi Pria Pertama yang Lahirkan Bayi di Inggris, Setelah Terima Hal Ini dari Facebook

Warti tidak sendiri dalam memproduksi seragam sekolah.

Ia memproduksi seragam sekolah bersama saudara-saudaranya.

Sebelum membuat usaha konveksi sendiri, ia dan empat saudaranya merupakan penjahit yang masih bekerja pada orang lain.

Memasuki tahun ajaran baru, konveksi baju seragam sekolah kebanjiran order, Jumat (7/7/2017)
Memasuki tahun ajaran baru, konveksi baju seragam sekolah kebanjiran order, Jumat (7/7/2017) (TRIBUNJATIM.COM/PRADHITYA FAUZI)

Berniat ingin mandiri, dengan modal dan kemampuan yang ia miliki, ia dan empat saudaranya membuka bisnis sendiri.

"Saya kan lima bersaudara. Saya ini anak keempat, tapi semua saudara saya punya rumah produksi seragam semua," terang Warti.

Meski demikian, hingga saat ini dia menuturkan tidak pernah berselisih paham dengan empat saudaranya itu.

Baca: Lai Guan Lin Sibuk dengan WANNA ONE, Ini Curhatan Yoo Seon Ho Produce 101 Season 2

Bahkan beberapa saudaranya ada yang turut memasarkan dan menjual, tidak sekadar memproduksi seragam seperti Warti.

"Kalau adik dan kakak saya di gang sebelah itu, dan sisanya di Madura dan di Lamongan," lanjutnya.

Kini hal tersebut dirasanya bukan hanya sekadar peluang emas, namun juga peruntungan terbaik yang dimiliki bersama empat saudaranya.

Memasuki tahun ajaran baru, konveksi baju seragam sekolah kebanjiran order, Jumat (7/7/2017)
Memasuki tahun ajaran baru, konveksi baju seragam sekolah kebanjiran order, Jumat (7/7/2017) (TRIBUNJATIM.COM/PRADHITYA FAUZI)

Dari hasil jerih payahnya itu, ia mampu membeli beberapa rumah, mobil, dan membiayai para pekerjanya.

Warti mengirimkan sejumlah pesanannya ke beberapa daerah di Indonesia.

Untuk wilayah kiriman yakni di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat.

Baca: Usai Hari Terakhir Daftar Ulang Siswa SMAN di Surabaya, Ini Jadwal Selanjutnya

Ia menuturkan orang pertama yang memborong jasanya itu berasal dari Sampit, Kalimantan Barat.

"Sekarang saya mempekerjakan 15 pegawai di rumah, 10 orang di Babat, Lamongan," kata Warti.

Setiap seminggu sekali, sekitar 30-50 pasang seragam disetorkan pada pemesannya.

Dia tidak melayani pembelian dalam retail atau eceran.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved