Ingin Bertani Tak Punya Lahan, Pria ini Malah Meraup Untung Lewat Tanaman Anggrek

Sejatinya Slamet (47) ingin bertani. Namun karena tidak punya sawah, Slamet memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam anggrek.

Penulis: David Yohanes | Editor: Yoni Iskandar
Surya/David Yohanes
Slamet (47) tengah memeriksa tanaman anggrek di salah satu green house milik kelompok tani Tunas Mulya, Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Sejatinya Slamet (47) ingin bertani. Namun karena tidak punya sawah, Slamet memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam anggrek.

Kini tanaman hias ini telah menjadi sumber penghasilannya bersama sejumlah petani lain di Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo.

Slamet mengungkapkan, sejak masih muda dirinya memang hobi bercocok tanam. Saat bunga gelombang cinta booming sekitar tahun 2005-2016, Slamet ikut bermain. Namun saat itu Slamet tidak terlalu dalam menekuni tanaman ini.

Saat gelombang cinta tengah ada di puncak dan mulai turun pamor, sekitar tahun 2008, Slamet bertekat untuk bertani. Namun keinginannya terkendala kepemilikan lahan. Slamet hanya punya lahan sempit di halaman rumahnya, di Dudun Pabiyongan.

“Saya berpikir keras waktu itu, tanaman apa yang bisa ditanam di lahan sempit tapi bisa menghasilkan uang. Kemudian saya sampai pada kesimpulan menanam anggrek,” ungkap Slamet, Jumat (14/7/2017).

Baca: Pria ini Memodifikasi Panci Yang Tidak Laku di Pasaran, Hasilnya Mencengangkan

Kini setelah sembilan tahun berselang, Slamet berhasil mendirikan sebuah kelompok tani tanaman anggrek yang diberi nama Tunas Mulya, dengan anggota 22 petani. Delapan di antaranya menjadikan anggrek sebagai mata pencarian, sisanya masih menjadi usaha selingan.

Ada lebih dari 400 spesies ditanam Slamet dan kawan-kawan. Setiap bulan seorang anggota rata-rata bisa menjual paling sedikit 200 pot bunga anggrek. Jika harga rata-rata satu pot Rp 25.000, maka penghasilan setiap petani sekurangnya Rp 5.000.000 per bulan.

“Angka tersebut adalah pendapatan kotor. Karena ada biaya operasional, biaya perawatan dan macam-macam,” tutur Slamet.

Anggrek dipilih karena mempunyai nilai ekonomis tinggi. Harganya stabil, bahkan cenderung naik dari waktu ke waktu. Slamet mencontohkan anggrek tebu, tahun 2000 dulu harganya sekitar Rp 5.000.000. Dengan ukuran yang sama, kini Slamet bisa menjual dengan harga Rp 10 juta.

Atau anggrek kribo asal Papua, yang harga lepas split saja bisa mencapai Rp 250.000, berisi dua atau tiga batang. Anggrek jenis ini menjadi yang termahal yang dijual Slamet dan kawan-kawan.

“Anggrek tidak pernah bergejolak, tidak pernah sangat ramai, tapi juga tidak pernah sepi. Anggrek tanaman yang punya penggemar fanatik, dan pasti laku,” katanya. (Surya/David Yohanes)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved