Ciptakan Alat Deteksi Stok Darah, Mahasiswa UB Raih Penghargaan di Jepang
Inovasi yang diapresiasi dunia internasional terus bermunculan dari mahasiswa Indonesia, khususnya Jawa Timur.
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Sulitnya proses pengawasan jumlah stok darah antara rumah sakit dan bank darah di Palang Merah Indonesia (PMI), menjadi latar belakang penelitian empat mahasiswa Universitas Brawijaya.
Reza Kemal Firdaus, Wahyuningyan Arini, Abu Hanifah Ramadhani, dan Rizhaf Setyo Hartono membuat alat pendeteksi dan monitoring ketersediaan stok suatu golongan darah.
Alat tersebut terhubung dengan database yang menggunakan modul Internet of Things (IoT).
Inovasi tersedbut disebut BINGO, yaitu Smart Blood Detector with Integrated Database System for Easy Blood Availability Monitoring. BINGO membantu mendeteksi stok golongan darah.
"Setelah terdeteksi, data stok darah berdasar golongannya akan ditransmisikan ke database," ujar Reza, mahasiswa FT UB, Jumat (11/8/2017).
Frekuensi golongan darah yang terbaca BINGO akan dikalkulasikan dengan 250 ml.
"250 ml adalah standar volume pendonoran orang dewasa. Sehingga, RS mendapatkan informasi ketersediaan stok darah tiap-tiap golongan di bank darah lewat aplikasi komputer secara real time," jelasnya.
Inovasi dari tim bernama Bio-ITech ini baru saja mendapatkan penghargaan medali perak dan special award sebagai inventor terbaik dalam ajang kompetisi Japan Design and Invention Expo (JDIE) International di Tokyo, Jepang pada 4-6 Agustus 2017 lalu.
"JDIE menampung ide kreatif dari pelajar berbagai negara. Kategori yang diperlombakan adalah desain, penemuan, seni, teknologi, dan pertunjukan. Jadi semua ide kreatif berkumpul di acara itu," katanya.
Dalam expo tersebut, tambah Reza, setiap peserta bisa mempresentasikan karyanya dengan berbagai cara.
"Sekreatif apapun agar mendapat perhatian dari para pengunjung, juri, dan para investor," ungkapnya.
Ke depan, BINGO akan terus mereka kembangkan agr semakin maksimal dalam kinerjanya.
"Kami berharap penghargaan ini menjadi semangat bagi diri sendiri dan orang lain. Alat ini juga bisa terus dikembangkan untuk dimanfaatkan banyak orang," tegas Reza. (Surya/Neneng Uswatun Hasanah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/universitas-brawijaya-juara-di-jepang_20170811_140049.jpg)