Malam Penculikan G 30S PKI Meletus, Presiden Soekarno Lakukan Hal Ini Bersama Dewi di Tempat Ini
Pada malam penculikan para jenderal oleh PKI, Presiden Soekarno malah begituan sama Dewi.
TRIBUNJATIM.COM - Hingga saat ini polemik tentang Gerakan 30 September atau G 30S/ PKI terus berlanjut.
Bahkan, hingga lebih dari 50 tahun terjadinya peristiwa tersebut.
Berbagai klaim mengenai siapa dalang, dan siapa yang menjadi korban atas peristiwa itu terus bermunculan.
Namun, lagi-lagi masalah itu seolah tidak menemui ujungnya.
Baca: Wanita Ini Seperti Gadis Usia 20 Tahun, Tapi Tak Seperti yang Kamu Kira, Coba Tebak Berapa Usianya?
Baca: Stadion Brawijaya Kediri Bakal Jadi Saksi Pertarungan Dua Tim Mental Juara di Final Liga 3 Jatim
Dilansir dari Intisari, pada 30 September 1965 malam, ketika komplotan G30S sedang menyiapkan rencana operasi untuk menculik para jenderal TNI AD, di saat yang sama Presiden Soekarno justru sedang sibuk menyiapkan hal lain.
Saat itu Bung Karno bersiap menghadiri acara pembukaan Musyawarah Nasional Teknik (Munastek) ke Istora Senayan, Jakarta.
Acara Munastek diprakarsai oleh pemimpin Angkatan Darat dan Persatuan Insinyur Indonesia(PII).
Sebagai seorang Presiden yang juga insinyur arsitektur, acara Munastek itu jelas merupakan peristiwa penting bagi Bung Karno.
Baca: RS Adi Husada Gelar Talkshow Kanker Serviks, Ini Kata Dokternya
Baca: LIVE STREAMING: Super Junior Bakal Beberkan Cerita Comeback-nya, Catat Tanggal dan Tonton Teasernya!
Ketua Munastek adalah Brigjen Hartono Wirjodiprodjo yang juga menjabat Direktur Pelalatan AD.
Sementara wakil ketuanya adalah Ir PC Harjo Sudirdjo, Menteri Pengairan Dasar yang sekaligus menjabat sebagai Ketua I.
Brigjen Hartono kemudian menjemput Bung Karno ke Istana Merdeka dan kemudian berangkat menuju Istora Senayan.
Hadir pula dalam acara pembukaan Munastek itu Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II dr Johannes Leimena dan Waperdam III, Chaerul Saleh.
Baca: Begini Kabar Para Pemain Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI Sekarang, Nomor 4 Nyentrik Abis!
Baca: Transparannya Kelewat Ekstrim, Area Dada di Baju Zaskia Gotik Dihebohkan, Wanita Lapang Dada
Saat tiba dan memasuki Istora yang sudah dipenuhi oleh lebih 10.000 hadirin yang gegap gempita meneriakkan slogan seperti “Merdeka”, “Hidup Bung Karno”, dan “Viva Pemimpin Besar Revolusi”.
Seperti, biasanya Soekarno tersenyum sambil melambaikan tangan dan disambut secara menggelora oleh hadirin.
Acara Munastek sukses dan selesai sekitar pukul 23.00 WIB.
Bung Karno lalu kembali ke Istana Merdeka.
Baca: Belum Punya Tiket Persebaya Surabaya Vs Persigo Semeru FC? Kamu Bisa Datangi 6 Tiket Box Ini Nih!
Baca: Ambisi Menangkan Pertandingan, Persela Lamongan Akan Terapkan Ini Saat Jamu Persegres Gesik United
Pengawalan resmi dibubarkan dan setiap pasukan kembali ke kesatuannya masing-masing.
Pengawal pribadi Bung Karno yang juga Wakil Komandan Pasukan Pengawal Presiden Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan, dan ajudan Bung Karno, Kolonel Bambang Widjanarko mengantar Bung Karno ke Istana Merdeka.
Karena tidak ada lagi sesuatu yang perlu mendapat perhatian apalagi pengawalan dan Presiden sendiri tidak memerintahkan Maulwi tetap berada di Istana, maka pada pukul 24.00 WIB setelah melapor Presiden, Maulwi pulang ke rumahnya di Jalan Birah II No.81, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Sekitar pukul 01.00 dini hari Maulwi kemudian tidur.
Baca: Gandeng 2 Ormas Besar, Kampanye Imunisasi Lamongan Sukses Capai 99,54 Persen
Baca: Jamu Persegres di Kandang Sendiri, Persela Lamongan Tak Bisa Mainkan Ivan Carlos, Kenapa?
Tapi begitu Maulwi pulang Bung Karno setelah berganti baju dengan dikawal Kompol Mangil dan timnya yang berpakaian preman, ternyata keluar dari Istana Merdeka dan berkendaraan menuju rumah Ratna Sari Dewi Sukarno yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto (sekarang museum Satria Mandala).
Dewi ternyata sedang menghadiri malam resepsi di Hotel Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Irak di Jakarta.
Bung Karno dan rombongan kemudian menyusul ke Hotel Indonesia dan menunggu di tempat parkir halaman hotel.
Sedangkan Soeparto, sopir pribadi Presiden menjemput Dewi yang dikawal anak buah Mangil, Ajun Inspektur II Sudiyo.
Baca: Kenalkan Tradisi Pesantren di Banyuwangi, Pembalap dari Berbagai Negara Kenakan Sarung dan Songkok
[22:08, 9/29/2017] Cindy TribunJatim:
Baca: Laga Kontra Persigo Semeru FC, Persebaya Surabaya Siap Amankan 3 Poin Laga Kandang
Setelah Dewi masuk ke mobil Bung Karno rombongan yang baru saja “bergadang” itu meneruskan perjalanan menuju rumah Dewi di jalan Gatot Subroto.
Pada dini hari itu pula di kawasan sisi timur Jakarta yang hanya berjarak kurang dari 10 km dari kawasan jalan Gatot Subroto telah terjadi aksi penculikan dan pembunuhan para jenderal yang kemudian menjadi Pahlawan Revolusi.
Presiden Soekarno sendiri baru tahu aksi penculikan para jenderal itu saat mengamankan diri di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada 1 Oktober 1965 menjelang tengah hari.
Sumber : buku Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/soekarno-dan-dewi_20170930_143830.jpg)