Ini Tiga Fakta Terkait Pemilih Pemula yang Wajib Diketahui Para Calon Peserta Pilgub 2018
Pilkada Serentak 2018 di Jawa Timur kurang beberapa bulan lagi. Dijadwalkan Pesta Demokrasi lima tahunan itu akan...
Penulis: Adeng Septi Irawan | Editor: Anugrah Fitra Nurani
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Adeng Septi Irawan
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pilkada Serentak 2018 di Jawa Timur kurang beberapa bulan lagi.
Dijadwalkan Pesta Demokrasi lima tahunan itu akan dilaksanakan bulan Juni tahun 2018 mendatang.
Beberapa kandidat mulai melakukan tahapan untuk proses kampanye menggaet para pemilih.
Dilansir dari Tribunjatim.com, Senin (20/11/2017) Ketua KPU Jatim, Eko Sasmito mengatakan ada dua tipologi pemilih yang memiliki pengaruh besar dalam Pemilihan Gubernur Jatim 2018.
(Setya Novanto Minta Perlindungan Presiden, Jokowi Beri Jawaban yang Sama Hingga Tiga Kali)
Dirinya mengatakan bahwa seringkali dalam beberapa gelaran pesta demokrasi yang dilakukan terakhir, antusias pemuda maupun difabel dinilai masih cukup rendah.
"Jumlah pemilih pemula yang kami asumsikan berada di kisaran usia 25 tahun itu jumlahnya cukup kecil. Di bawah tiga persen dari total jumlah pemilih yang mencapai 31,5 juta suara," ujar Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jatim, Eko Sasmito dikutip dari Tribunjatim.com, Senin (20/11/2017).
Kendati antusiasnya begitu rendah, jumlah pemilih muda di Jawa Timur saat ini terbilang melimpah.
Data statistik IPOL mencatat bonus demografi Jawa Timur adalah 43,79 persen dari total penduduk yang mencapai 38,85 juta jiwa.
"Dari jumlah tersebut yang berusia millenial atau generasi Y sekitar 37,68 persen. Jumlah penduduk yang merupakan kaum milenial, yakni yang lahir tahu 1981-1994 mencapai 14,5 juta," kata Petrus Hariyanto, CEO Ipol Indonesia.
Untuk itu, Pemilih muda masih pantas menjadi sasaran kampanye para calon peserta Pilgub Jatim 2018.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut sederet fakta soal pemilih pemula.
1. Suka Pemimpin Rasional
Mereka para pemilih pemula lebih menyukai pemimpin yang memilki kejelasan program yang rasional ketimbang pemimpin yang hanya omong doang (omdo).
Biasanya pemilih jenis ini berasal dari kalangan pemuda ataupun mahasiswa.
Bupati Banyuwangi Azwar Anas menyebut bahwa pemilih pemula adalah orang yang cukup rasional.
"Apa yang sampaikan calonnya itu rasional tidak, jangan jangan waktu pidato bagus dan ini tidak bisa dikerjakan," katanya dikutip dari Tribunjatim.com , Senin (20/11/2017).
2. Mayoritas Pemilih Pemula Cenderung Apatis
Dikutip dari jambi.tribunnews.com, Senin (20/11/2017), Pengamat politik As'ad Isma mengatakan, mayoritas pemilih pemula cenderung cuek dan apatis.
Mereka terdidik secara akademik, namun tidak cukup peduli dalam hal-hal yang berhubungan dengan politik.
Menurut As'ad, ada dua hal yang membuat pemilih pemula bisa ditarik antusiasnya terhadap isu-isu politik.
Yang pertama adalah karena adanya hubungan emosional dengan kandidat, atau karena dimobilisasi oleh tim sukses. Jika `dibiarkan' atau tidak digarap, pemilih pemula akan cuek.
3. Pemilih Pemula Punya Pengaruh pada Calon
Seperti dikutip dari tribunnews.com, Senin (20/11/2017) Pengamat politik FISIP Universitas Katolik Parahyangan, Asep Warlan Yusuf mengatakan bahwa Anak Muda mempunyai pengaruh dalam p[enentuan calon pemimpin, meski tidak banyak.
"Anak muda juga itu bagian penting untuk suara tapi tidak cukup mengandalkan segmen muda, pemilih pemula. Sebaiknya juga menyebar, baik dari segala usia," ujarnya dikutip dari Tribunnews.com, Senin (20/11/2017) .
Menurut Asep Warlan Yusuf, kelompok anak muda akan menjadi kelompok yang diperebutkan suaranya oleh beberapa kandidat.
Setidaknya, para calon yang hendak maju untuk menjadi calon gubernur maupun calon wakil gubernur untuk memperhatikan sederet fakta terkait pemilih pemula yang mungkin tak banyak diketahui oleh publik.