Dukung Swasembada Pangan, Daerah ini Bikin Gerakan Tiada Hari Tanpa Penen Padi
Gerakan setiap hari panen padi mulai digaungkan, untuk mendukung swasembada pangan dan ...
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Gerakan setiap hari panen padi mulai digaungkan. Ini untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Guna mewujudkan hal itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Jatim bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo mengadakan gerakan panen padi bersama petani di areal lahan pertanian Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan, Selasa (19/12/2017).
Kegiatan ditandai dengan panen padi bersama Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari, Kepala BPTP Balitbangtan Jatim Chendy Tafakrisnanto, Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang Joko Susilo Utomo, Forkopimka Kraksaan, Lurah Sidomukti Syamsul Arifin serta petani yang ada di Kelurahan Sidomukti.
Lurah Sidomukti mengatakan, luas lahan pertanian di wilayahnya mencapai 104 hektar. Sementara lahan pertanian yang dilakukan panen padi bersama mencapai 90 hektar.
“Alhamdulillah, produktivitas pertanian disini sudah sangat bagus. Ini berkat dukungan cuaca yang baik,” katanya.
Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari menambahkan, pihaknya memang menggerakkan tanam serempak dengan tujuan untuk menghindari serangan hama penyakit.
“Setiap hari di Kabupaten Probolinggo selalu ada panen untuk menjaga ketersediaan pangan pada musim panen untuk 3 (tiga) bulan ke depan,” jelasnya.
Menurut Hasyim, target produksi padi tahun 2017 di Kabupaten Probolinggo 334.454 ton. Adapaun realisasi hingga akhir Nopember mencapai 313.108 ton.
Masih ada selisih 21.595 ton. Karena luas tanam belum terpenuhi seluas 68.105 hektar. “Kami hanya memenuhi 46.510 hektar. Ada selisih 21.555 hektar yang akan dicapai di bulan Desember 2017,” jelasnya.
Hasyim menambahkan pada bulan Nopember, areal tanam padi telah dikurangi karena serangan hama wereng.
Kalau lahan tanam yang terkena wereng ditanam, maka bisa terkena hama wereng lagi.
“Areal tanam yang tidak terpenuhi karena ada himbauan kepada petani untuk tidak menanam padi di bulan Oktober hingga Nopember,” terangnya.
Lebih lanjut Hasyim menambahkan tahun 2016 lalu pihaknya over luas lahan sekitar 800 hektar.
Tentunya diharapkan hal tersebut bisa menjadi bahan evalussi agar supaya Kabupaten Probolinggo tidak dikejar-kejar terkait Luas Tambah Tanam (LTT).
“Untuk tahun depan, sekitar 50 hektar lahan pertanian produktif di Kabupaten Probolinggo terkena proyek program nasional jalan tol. Tentunya ini harus dipikirkan bagaimana meningkatkan produksi pertanian dengan lahan yang ada. Terlebih penyuluh kami tinggal 42 orang dan usianya rata-rata diatas 50 tahun,” tegasnya.
Sedangkan Kepala Balitkabi Malang Joko Susilo Utomo menyampaikan di Kabupaten Probolinggo ternyata setiap hari sudah ada panen padi sehingga sudah tidak ada klaim kepada Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
“Dengan panen padi setiap hari, maka kebutuhan pangan bisa terpenuhi,” jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Kepala BPTP Balitbangtan Jawa Timur Chendy Tafakrisnanto. Menurutnya, tahun 2018 adalah tahun benih nasional. BPTP harus menyediakan benih di Jawa Timur dan akan mengurangi benih yang diproduksi petani.
“Kita sudah membina kelonpok tani melalui kegiatan mandiri benih. Karena jika benihnya bagus maka hasil yang ditanam juga akan bagus,” katanya.
Menurut Chendy, semua benih yang ditanam petani adalah benih unggul. Karena benih adalah penyumbang 40 persen produksi.
“Contoh inpari dan ceherang, kita cari induknya. Kendala petani susah pada benih. Kami beri stimulan benih secara ketat dan kemudian kami lakukan pendampingan. Gratis dari kami. Nanti akan dipetakan calon lokasi dan calon petani harus jelas. Tidak boleh overlap,” terangnya.
Chendy menambahkan pemanfaatan teknologi pertanian diharapkan bisa mensejahterakan petani.
“Dulu kita mengolah lahan memakai cangkul sekarang sudah memakai mesin. Pemerintah terus berupaya memberikan bantuan. Teknologi dahulu petani menggunakan pupuk tunggal, maka sekarang pupuk berimbang. Bahkan petani diharapkan menggunakan pupuk hayati,” pungkasnya. (Surya/Galih Lintartika)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/panen-padi-di-probolinggo_20171219_155358.jpg)