Sidak ke Gudang Bulog, Komisi VI DPR RI Temukan Beras Aneh dan Agak Kehitaman
"Kami juga sudah cek langsung ke Pasar Genteng Surabaya dan ambil sample beras Bulog dari sana. Ketika dicek di gudang, ternyata sama"
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO - Anggota Komisi VI DPRRI mengeritik beras Bulog Jatim yang dirasa kualitasnya kurang, yakni memiliki tekstur warna kehitaman.
Hal ini terungkap tatkala delapan anggota Komisi VI DPR RI melakukan kunker spesifik ke Gudang Bulog Subdivre Surabaya Utara di Buduran, Kamis (25/1/2018).
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana, mengatakan beras Bulog memiliki tekstur warna agak kehitaman jika dibandingkan beras-beras lain di pasaran.
"Kami juga sudah cek langsung ke Pasar Genteng Surabaya dan ambil sample beras Bulog dari sana. Ketika dicek di gudang, ternyata sama, agak kehitaman," kata Azman.
Politisi Partai Demokrat ini meminta agar Bulog menyerap beras kualitas bagus di kalangan petani.
Astaga, Sidak Dewan Temukan Perusahaan ini Seenaknya Buang Kotoran Babi ke Sungai Brantas
Dengan demikian, produksi beras Bulog akan bagus seperti beras premium di pasaran.
Apalagi, lanjutnya, 2019 mendatang Bulog tidak lagi menyediakan beras rastra (beras untuk keluarga prasejahtera).
Dengan demikian, Bulog tak lagi harus membeli semua beras petani yang berkualitas rendah.
Hal ini dimaksudkan agar kualitas beras Bulog meningkat.
Dengan demikian, ketika Bulog menggelontorkan simpanan berasnya ke pasar, bisa mempengaruhi harga beras di pasar.
"Kalau beras dengan kualitas sekarang tidak berpengaruh. Padahal beras Bulog dijual Rp 9.000, namun tetap tidak bisa menurunkan harga beras kualitas premium yang saat ini meningkat," paparnya.
Jelang Pernikahan Perut Sudah Hamil Besar, Irene dan Calon Suami Terkena Karma Gara-gara Kucing
Azam menerangkan kunker spesifik ini dilakukan di tiga wilayah, yakni Jatim, Sulawesi Selatan, dan Batam.
Kunker ini dimaksudkan untuk mengetahui keadaan real di lapangan terkait keadaan pasokan beras di Indonesia, menyusul rencana impor beras sebanyak 500.000 ton.
Hasil kunker ini akan dijadikan patokan untuk memutuskan izin impor tersebut, meski saat ini sudah masuk sekitar 250.000 ton.
"Akan kami rapatkan untik diputuskan perlu atau tidaknya impor lagi. Namun untuk Jatim sendiri, kami lihat tidak butuh pasokan beras impor ini," ujarnya.
Demi Laptop Bermerek Milik Mahasiswa, Pria ini Pura-pura Cari Kamar Kos
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo, menyatakan Bulog menyerap sekitar 2,7 ton gabah petani tiap tahunnya. Gabah-gabah itu dari berbagai jenis kualitas, termasuk kualitas rendah.
"Jadinya berasnya tidak putih bersih," imbuh Imam.
Ke depan, lanjutnya, Bulog akan murni berbisnis beras karena tak lagi menyediakan beras rastra. Hal ini untuk menjaga harga pasar.
Pihaknya akan memyerap gabah-gabah petani yang punya potensi komersial berdasarkan standardisasi yang ditetapkan. Dicontohkan, kandungan airnya tidak lebih dari 14 persen.
Namun, pihaknya masih memiliki kendala di harga pembelian pemerintah (HPP) beras yang masih Rp 3.700. HPP ideal untuk membeli gabah petani kualitas bagus sekitar Rp 4.200.
"Perubahan HPP harus dari pemerintah langsung," ucapnya.
Pasukan Elit Paling Kejam itu Bernama Kempetai, Gemar Siksa dan Bunuh Orang Tanpa Alasan Jelas
Terkait beras impor yang sudah masuk, Imam menyatakan beras tersebuy tidak didistribusikan melainkan dijadikan stok Bulog.
Kalaupun didistribusikan, Jatim tidak akan mendapatkan jatah beras impor tersebut karena saat ini Bulog Jatim memilikincadangan 132.000 ton.
"Apalagi Jatim sudah memasuki masa panen. Jadi kalaupun beras impor itunada di Jatim, hanya sekedar transit untuk didistribusikan ke daerah lain. Namun saat ini beras impor itunmasih ada di gudang kami," tegasnya. (Surya/Irwan Syairwan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/dpr-ri-sidak-gudang-bulog_20180125_161955.jpg)