Ini Kisah Pemuda dari Pamekasan, Sering Meresensi Buku, Bikin 'Rindu Berdarah' dari Kumpulan Cerpen

Ini Kisah Pemuda dari Pamekasan, Sering Meresensi Buku, Bikin 'Rindu Berdarah' dari Kumpulan Cerpennya.

Ini Kisah Pemuda dari Pamekasan, Sering Meresensi Buku, Bikin 'Rindu Berdarah' dari Kumpulan Cerpen
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Imron Maulana memamerkan karyanya, Minggu (30/6/2019) 

TRIBUNJATIM.COM, PAMEKASAN - Setiap orang memiliki kisahnya sendiri-sendiri, yang dialaminya setiap saat, mulai dari terbit matahari hingga terbenam di ufuk barat.

Ada banyak cerita yang mungkin dapat diceritakan, mulai dari kisah asmara, pekerjaan, pertemuan dengan teman sejawat dan keseluruhan kisah dalam kesehariannya.

Hendak Putar Balik, Pelajar di Pamekasan ini Tabrak Median Jalan, Tewas Tersambar Truk

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam Lepas 4 Peserta OSN Tingkat Nasional

Beberapa Desa di Pamekasan Mulai Kekeringan, BPBD Tunggu Data Detail & Siapkan SK Tanggap Darurat

Namun tidak banyak dari mereka yang mengabadikannya dalam sebuah karya tulis, sehingga menjadikannya sebuah karya abadi yang menjadikan pengarangnya dikenal sepanjang masa.

Imron Maulana (24) pemuda asal Desa Tambung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan adalah satu dari sekian pemuda yang memiliki talenta itu.

Mengabadikan kisahnya dalam sebuah oretan pena menjadi sebuah buku.

"Soal menerbitkan buku sebenarnya itu berasal dari kesukaan saya di dunia literasi, dimana dari semua buku yang pernah saya baca harus saya tulis kembali dalam bentuk resensi," katanya kepada TribunMadura.com, Minggu (30/6/2019).

Dari situ, kata Imron, kalau hanya membaca itu kurang afdol, jika hasil bacaan tersebut tidak disampaikan kepada orang lain.

Karenanya Ia memilih menulis untuk menyampaikan hasil dari buku yang ia baca.

"Nah, dari situ kemudian terbitlah buku pertama saya yang judulnya "Rindu Berdarah". Buku itu sebenarnya kumpulan cerpen dan puisi yang pernah saya terbitkan di media, baik media online dan media cetak, tapi itu lebih banyak yang ada di blog pribadi saya.

Semua tulisan itu saya coba kumpulkan lagi dijadikan satu dalam kotak bernama "Rindu Berdarah" itu," tutur pemuda yang aktif di Komunitas Pamekasan Membaca (Kompak) itu.

Lebih lanjut, Imron menjelaskan mengapa bukunya diberi nama "Rindu Berdarah", sebab nama itu yang pas untuk membungkus tema yang berkaitan dengan semua tulisan-tulisan itu.

"Selain memang itu adalah cerpen andalan saya dan cerpen itu juga yang juga dimuat di salah satu media cetak," ujar dia.

"Dari karya pertama ini saya harap untuk diri saya pribadi agar lebih bersemangat berkarya, dan untuk para pemuda-pemuda di sekitar saya mungkin karya ini juga menginpirasi mereka agar menulis, sebab dengan menulis kita akan hidup abadi dan tumbuh subur dalam sejarah manusia," tandasnya.

Imron Maulana memang masih menerbitkan satu buku yang berjudul "Rindu Berdarah", namun tidak menutup kemungkinan bagi dirinya untuk terus berkarya dan berkarya.

Perlu diketahui, Imron Maulana merupakan pemuda penuh talenta, selain ia sebagai mahasiswa Pascasarjana IAIN Madura, ia juga aktif sebagai aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai Wadir Bidang Pengabdian Masyarakat Bakornas LAPMI PB HMI.

Penulis: Kuswanto Ferdian
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved