Memulai Sebagai Penjahit, Founder NA Collection Ribut Ernawati Ciptakan Produk Aksesori dari Perca

NA Collection merupakan salah satu umkm di bidang aksesoris yang berada di Surabaya. Galerinya, berada di daerah Rungkut.

Memulai Sebagai Penjahit, Founder NA Collection Ribut Ernawati Ciptakan Produk Aksesori dari Perca
TRIBUNJATIM.COM/HEFTY SUUD
Founder Na Collection, Ribut Ernawati atau yang akrab disapa Nana. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - NA Collection merupakan salah satu umkm di bidang aksesoris yang berada di Surabaya. Galerinya, berada di daerah Rungkut.

Founder Na Collection, Ribut Ernawati atau yang akrab disapa Nana mengatakan, usaha aksesorisnya itu dimulai dengan modal Rp 0. Sebab, produk pertamanya, aksesoris batik dibuatnya dari kain sisa jahitannya (perca).

"Awalnya dulu karena coba-coba, perca batik itu saya pakai untuk membungkus manik-manik. Nah kelihatannya jadi seperti butiran-butiran batik, lalu saya susun jadi kalung," ujar perempuan yang mengaku sudah 20 tahun menjadi penjahit itu.

Pengrajin Souvenir di Kabupaten Jombang Kecipratan Rezeki Perayaan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus

Mengaku hanya lulusan SMA, idenya membuat kalung dari perca batik hanya berangkat dari imajinasi. Kebetulan, dari kecil ia sendiri memang menyukai kesenian dan mulai belajar secara otodidak.

"Keluarga nggak ada yang seniman, jadi saya belajar sendiri dari kecil, melukis, nyanyi, bikin-bikin kerajinan gitu. Tapi ibu saya suka menajahit baju, jahit manual -pakai tangan, mungkin nurun dari situ," ujar perempuan kelahiran Jombang itu.

Usaha yang dimulainya dari enam tahun lalu di Jombang itu, dikatakan Nana sempat vacum selama dua tahun karena masalah keluarga. 2016 lalu, ia membangun kembali usaha aksesorisnya di Surabaya.

"Nah saat itu benar-benar modal nggak ada, bahan juga nggak ada. Akhirnya, saya mengajukan diri ke Disperindag Jatim untuk menjadi instrukrur aksesoris perca batik," ujarnya.

Perkenalannya dengan Disperindag, dikatakan Nana berawal dari keiberaniannya mengikuti beberapa pameran yang diadakan oleh kedinasan, sejak berada di Jombang.

Pemkot Surabaya Penuhi Keinginan Warga Eks Lokalisasi Dolly untuk Bangun Kampung Wisata UMKM

Mengikuti pameran yang diadakan pemerintah kota maupun provinsi, disebut Nana menjadi salah satu jalan mengenalkan sekaligus melakukan penjualan produk.

Bermodalkan upah menjadi instruktur aksesori perca batik, Nana membangun kembali usahanya. Kini, produk aksesoris perca batik yang dibandrolnya Rp 200 ribu sampai Rp 700 ribu itu, sudah banyak diekspor ke Jepang dan Cina.

"Jadi uang satu juta, dua juta dari mengajar pelatihan itu saya kumpulkan. Saya jadikan modal untuk membuat aksesoris, bahannya saya beli di Pusat Grosir Surabaya," papar Nana mengingat perjuangannya tiga tahun lalu.

Imbuhnya, minimal dalam sebulan, ia bisa menjual sekitar 10 pcs aksesoris melalui penjualan secara langsung. Penjualannya bisa lebih dari itu, apabila ia mengikuti acara pameran.

Untuk itu, dalam menjalankan usahanya, selain mengandalkan penjualan. Nana pun mengadakan pelatihan, baik di galerinya, secara personal, ataupun kelompok.

Penulis: Hefty Suud
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved