Kasus Pengepul Rongsokan Cabuli 19 Bocah Laki Selama 11 Tahun, Polisi Dalami Pemeriksaan Korban
Kasus Pengepul Rongsokan Cabuli 19 Bocah Laki Selama 11 Tahun, Polisi Dalami Pemeriksaan Korban.
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Sudarma Adi
Kasus Pengepul Rongsokan Cabuli 19 Bocah Laki Selama 11 Tahun, Polisi Dalami Pemeriksaan Korban
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tim Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim terus mendalami kasus pencabulan anak di bawah umur yang terjadi di Tulungagung.
Kekerasan seksual itu dilakukan oleh seorang pengepul rongsokan, Muhajar Sidiq (42) terhadap 19 korban anak laki di bawah umur.
Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana menuturkan, sejauh ini belum ada penambahan korban baru yang melapor ke kepolisian.
• PENGAKUAN Bujang Tulungagung Belasan Tahun Cabuli Bocah Laki-laki, Bang Jek Akui Sayang, Ingin Tobat
• Tukang Rongsokan Tulungagung Cabuli 19 Anak di Bawah Umur, Polisi Ungkap Semua Korban Laki-laki
• Cabuli 19 Anak di Bawah Umur Selama 11 Tahun, Pengepul Rongsokan di Tulungagung Dikeler Polda Jatim
"Adanya korban tambahan kami masih belum mendapat laporan tentang gitu," katanya saat dihubungi TribunJatim.com, Senin (16/9/2019).
Sejauh ini, ungkap Festo, pihaknya masih berfokus melakukan pemeriksaan terhadap 19 orang korban.
"Karena sejauh ini kami masih melakukan pemeriksaan terhadap 19 orang korban," jelasnya.
Sebelumnya, Festo mengungkap, dalam kurun waktu 11 tahun, sejak 2008, pelaku tercatat merudapaksa 19 orang.
Parahnya, para korban itu masih dibawah umur, dan keseluruhan berjenis kelamin laki-laki.
"Rata-rata umur 14-19 tahun laki-laki semua," kata pria berkumis itu di Balai Wartawan Gedung Mapolda Jatim, Jumat (13/9/2019) kemarin.
Festo mengungkapkan, para korban ada yang tinggal bertetangga dengan pelaku.
Namun ada juga yang berasal dari kawasan diluar kabupaten Tulungagung.
Berdasarkan catatan penyidik, 16 korban diantara pelaku tercatat berdomisili di Tulungagung.
Kemudian, dua korban berdomisili Blitar, dan satu orang korban sisanya berasal dari Kediri.
"Kami masih mengembangkan, kuat dugaan bisa lebih korbannya," pungkasnya.