3 Alasan UNESA dan FDGBI Mengupayakan Bahasa Indonesia-Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional
Unesa & Forum Dewan Guru Besar Indonesia pertama kalinya mendeklarasikan Bahasa Indonesia-Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional.
Penulis: Hefty Suud | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya dan Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) untuk pertama kalinya mendeklarasikan Bahasa Indonesia-Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional.
Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Musyawarah Internasional dan Seminar FDGBI IV digelar selama empat hari di Hotel Golden Tulip Legacy, Surabaya.
Prof Drs Koentjoro MBSe P.hd, dewan pertimbaghan DGBI mengatakan ada tiga hal yang melatar belakangi ide menjadikan Bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa ilmiah internasional.
• Sasar 1000 Mahasiswa, OJK dan FK-LJKD Gelar Pelatihan Literasi dan Inklusi Keuangan 2019
"Pertama tentunya adanya trend Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Kita perlu bahasa pemersatu, karena pasalnya tidak semua orang mampu berbahasa Inggris dan Bahasa Indonesia ini sudah mulai dipelajari di beberapa negara di dunia," ujar Prof Drs Koentjoro MBSe P.hd.
Prof Drs Koentjoro MBSe P.hd melanjutkan, hal tersebut berkaitan dengan paham bahwa bahasa dapat berfungsi sebagai alat perang dan berperan sebagai modal berbisnis.
Sebagaimana kita ketahui, lagu dangdut bisa jadi pemersatu orang-orang dari negara-negara di Asia, seperti yang ditunjukkan salah satu stasiun tv Indonesia.
Prof Drs Koentjoro MBSe P.hd mengatakan para ilmuwan sudah selayaknya mengadakan dialog, supaya pertukaran ilmu di dunia ini bisa maju pesat dengan Bahasa Indonesia.
Pasalnya, banyak negara di dunia yang sudah mulai mempelajari dan menggunakan Bahasa Indonesia. Korea Selatan, Australia, dan Turki misalnya.
Ditemui dalam Musyawarah Internasional dan Seminar FDGBI IV, Selasa (5/11/2019), Prof Dr Koh Young Hun dari Korea Selatan memaparkan, pada Januari 2020 akan ada 15 mahasiswa dari Korea Selatan yang akan belajar Bahasa Indonesia di UNESA.
Poin ketiga, menjadikan Bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa ilmiah internasional, dapat membuat semua orang berbahasa Indonesia di dunia memiliki peluang yang lebih besar menjadi guru besar.
"Dengan begini, profesionalitas dan kekarya pengetahuan seseorang lebih punya banyak peluang untuk diakui dunia, dengan penulisan jurnal Berbahasa Indonesia," harap Prof Drs Koentjoro MBSe P.hd.
• 5 Jenis Eating Disorder yang Perlu Diketahui, Ada yang Sampai Benci Diri Sendiri karena Banyak Makan