Dinilai Tak Adil, Bonek Melawan PSSI Soal Sanksi Persebaya Surabaya
Suporter Persebaya atau Bonek melakukan perlawanan ke PSSI lantaran merasa diperlakukan tidak adil atas sanksi atau hukuman ke Bajul Ijo.
Penulis: Fatkhul Alamy | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Suporter Persebaya atau Bonek melakukan perlawanan ke PSSI lantaran merasa diperlakukan tidak adil atas sanksi atau hukuman ke Bajul Ijo.
Hukuman Persebaya yang bertanding tampa penonton baik laga home dan away hingga kompetisi Liga 1 2019 berakhir oleh Komite Disiplin (Komdis) cukup memberatkan,persebaya juga dikenai denda sebesar Rp 200 juta.
"Kami buka menolak adanya sanksi, tapi kami merasa tidak adil atas putusan yang dijatuhkan Komdis PSSI ke Persebaya," sebut Andi Pecie, salah satu tokoh Bonek di Surabaya, Minggu (8/12).
Persebaya mendapat sanksi dari Komdisi PSSI atas tindak kerusuhan oknum Bonek setelah laga Persebaya Surabaya vs PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), 29 Oktober 2018 lalu. Laga tersebut dimenangi tim tamu PSS Sleman 3-2.
Atas sanski dari komdisi PSSI, manajemen Persebaya pun melakukan upaya banding ke Komite Banding (Komding) PSSI. Dalam sidangnya, banding Persebaya ditolak.
• BREAKING NEWS - Polda Jatim Geledah Ruang Dispendik Kota Pasuruan Terkait Atap SDN Gentong Ambruk
• Dianggap Salahi Aturan, Satpol PP Tuban Bredel Baliho Bakal Calon Bupati Tuban
• Buka Suara Terkait Isu Suaminya Selundupkan Harley di Pesawat Garuda, Iis Dahlia: Capcay Eike Tuhhhh
Dalam surat salinan putusan Komding PSSI yang diterima Persebaya, ternyata ada kalimat yang salah ketik. Dimana dalam surat ada kalimat dengan menulis PSS Sleman sebagai pihak yang keberatan, padahal yang mengajukan banding Persebaya.
Andi Pecie menuturkan, sikap PSSI tidak adil bisa terlihat dengan kejadian laga Persela Lamongan lawan Perseru Badak Lampung, 20 November 2019. Laga itu juga rusuh, seperti di Surabaya. Justu lebih parah karena kejadiannya saat laga berlangsung.
Permohonan banding Persela diterima dengan keringanan sanksi. Tim Laskar Joko Tingkir itu hanya mendapat hukuman tanpa penonton saat laga tandang.
"Ini sudah tidak adil. Bukannya kami tidak mau menerima sanksi dan yang salah harus kena sanksi, tapi keadilan harus ditegakan ke semua klub," ucap Andi.
Andi Pecie menambahkan, PSSI sebenarnya tidak pernah melibatkan suporter sebagai keluarga sepak bola Indonesia.
Sesauai Kode Disiplin dan Satatuta PSSI tidak ada kata suporter untuk masuk ketentuan sebagai ciri-ciri khusus penonton sepakbola.
"Dalam kode disiplin dan statuta PSSI tidak ada kata atau aturan spesifik soal suporter, makanya kami akan melakukan gugatan sebagai penonton sepakbola. Ini demi perubahan dan perbaikan kedepannya," teang Andi.
Menurut Andi, pihaknya bekerja sama dan menyerahkan sepenuhnya ke Bonek Advokat guna melakukan gugatan PSSI.
Sebelum melakukan upaya hukum dengan jalan melakukan gugatan PSSI ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta, tim Bonek Advokat bakal melakukan somasi PSSI.
"Kami akan somasi PSSI hari Senin (9/12). Kami beri waktu tiga hari supaya PSSI ada respon atau jawaban," sebut Yakub Miradi, anggota Bonek Advokat.
Jika PSSI tidak ada respon, maka langkah selanjutnya adalah upaya hukum dengan melakukan gugatan PSSI ke PN Jakarta. Tututannya supaya sansi PSSI dicabit atau dibatalkan.
"Walau kompetisi (liga 1 2019) akan selesai, kami akan tetap melakukan (gugatan)," ucap Yakub. (fat/Tribunjatim.com)