Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Hasil Autopsi Jenazah Korban Virus Corona Buat Peneliti Kaget, Kondisi Organ Dalam Ngeri, 'Merusak'

Hasil autopsi jenazah korban virus Corona membuat peneliti terkejut. Keterkejutan mereka di antaranya terkait organ dalam tubuh yang rusak.

Penulis: Ani Susanti | Editor: Januar
REUTERS/THOMAS PETER via Kompas.com
Staf medis dengan pakaian lengkap berjalan di pos pemeriksaan zona eksklusi Jembatan Sungai Yangtze di Jiujiang, Provinsi Hubei, China pada 1 Februari 2020 di tengah merebaknya virus Corona. 

TRIBUNJATIM.COM - Hasil autopsi jenazah korban virus Corona membuat peneliti terkejut.

Keterkejutan mereka di antaranya terkait organ dalam tubuh yang rusak karena virus Corona.

Simak berita selengkapnya.

Kisah Suku Wanita Amazon yang Hidup Tanpa Kaum Pria, Cara Mereka Bisa Hamil & Punya Anak Terkuak

Kisah Pria Hilang 9 Hari di Hutan Amazon Dulu Viral, Awalnya Tolak Ikut Ritual, Kondisi Tangan Ngeri

Diketahui, virus Corona telah menjadi wabah mematikan yang menyerang hampir seluruh dunia.

Wabah ini dianggap mirip dengan SARS dan MERS menurut peneliti China dalam studi terbarunya, yang hingga kini masih terus diteliti.

Menurut peneliti China, mereka telah melakukan autopsi untuk mengetahui bagian dalam tubuh korban yang meninggal akibat virus Corona.

Hasilnya pun mengejutkan, ilmuwan temukan hal-hal yang selama ini belum pernah kita ketahui.

Rencana Ashraf Sinclair yang Tak Terwujud Dikuak Ustaz, Chat WA Terakhir Berisi Salam: ke Rasulullah

Dilansir dari Intisari (grup TribunJatim.com), laporan yang diterbitkan oleh jurnal media Inggris, The Lancet ini berdasarkan autopsi yang dilakukan para ahli dari Pusat Medis Kelima Rumah Sakit Umum, Tentara Pembebasan Rakyat di Beijing.

Mereka memperoleh sampel biopsi dan autopsi dari seorang pria berusia 50 tahun yang meninggal akhir Januari lalu akibat virus Corona.

Hasilnya ilmuwan temukan situasi yang mirip dengan wabah SARS, penyakit yang pernah menyerang China Selatan tahun 2002-2003.

Pada saat itu SARS menewaskan lebih dari 800 orang dan lebih dari dua lusin negara saat itu juga merasakan dampak dari wabah tersebut.

Cerita di Balik Mi Instan Terakhir Permintaan Ashraf ke BCL, Obrolan Malam yang Diwarnai Penolakan

Sementara itu wabah MERS mewabah tahun 2012, pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi menyebabkan 860 kematian secara global.

Pria yang diotopsi di Beijing itu memiliki gejala awal pada 14 Januari kemudian meninggal dua mingggu kemudian.

Setelah itu dia mendonasikan tubuhnya untuk bahan penelitian jika dirinya meninggal, namun akhirnya dia benar-benar tewas.

Kemudian setelah ilmuwan melakukan penelitin dengan autopsi temukan pada alveoli di kedua paru-parunya mengalami kerusakan.

Kisah Suku Wanita Amazon yang Hidup Tanpa Kaum Pria, Cara Mereka Bisa Hamil & Punya Anak Terkuak

Juga ditemukan cedera pada hatinya yang kemungkinan disebabkan oleh virus Corona.

Ada kerusakan yang kurang substansial pada jaringan jantung, menunjukkan bahwa infeksi "mungkin tidak secara langsung merusak jantung." dikutip TribunJatim.com, Minggu (23/2/2020).

Peneliti mengatakan, bahwa pengobatan antiinflamasi yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak boleh secara rutin digunakan di luar uji klinis.

VIRAL Video Suami Sendirian Rawat Istri Terinfeksi Virus Corona, Nekat Mendekat Meski Dibentak

Wa Fu-sheng dan Zhao Jingmin dua rekan penulis itu tidak mampu menghadapi kometar lebih lanjut.

Tapi mereka mencatat dalam penelitian ini bahwa tidak ada patologi yang ditemukan, sebelum kasus virus Corona.

Wabah ini telah menyebabkan sekitar 74.000 orang terinfeksi dan lebih dari 2.000 orang meninggal, sementara yang disembuhkan sekitar 16.000 orang.

Lebih dari 25 negara telah melaporkan infeksi virus Corona, dan memicu kekhawatiran bahwa wabah tersebut oleh WHO digolongkan sebagai darurat global.

1 Kebiasaan Orang Indonesia Disebut Ahli Kesehatan Australia Bisa Jadi Alasan Corona Tak Terdeteksi

Sebuah studi terpisah yang diterbitkan dalam The Lancet oleh para spesialis dari University of Edinburgh pada 7 Februari berpendapat bahwa, tentang penggunaan kortikosteroid.

Suatu kelas hormon steroid banyak digunakan selama wabah SARS dan MERS dan telah dicoba pada pasien virus Corona baru.

Studi pengamatan menyarankan penggunaannya untuk mengurangi peradangan dapat menyebabkan komplikasi termasuk diabetes, kematian jaringan tulang dan penundaan pengangkatan virus.

Lima ilmuwan China yang dipimpin oleh Lianhan Shang dari Universitas Pengobatan China Beijing, menerbitkan tanggapan terhadap penelitian yang mendorong penggunaaan kortikosteroid dalam kasus tertentu.

Tanggapan ini mengakui risiko penggunaan kortiskosteroid dosis tinggi pada pasien virus Corona, termasuk potensi infeksi lainnya.

Tapi mungkin dibenarkan untuk pasien yang sakit kritis dengan peradangan yang signifiasinnya terletak di paru-paru mereka.

Di Tengah Wabah Virus Corona, China Kini Diserang Teror Serbuan Belalang Raksasa dari Afrika

China kembali dirundung masalah besar lagi.

Saat ini Negara Tirai Bambu tersebut sedang berjuang mengatasi wabah virus Corona.

Ribuan nyawa telah terenggut dan ratusan ribu lainnya positif terinfeksi virus Corona.

Menurut Daily Star pada Jumat (21/2/2020) via Tribunnews, China sekali lagi bersiap untuk menghadapai wabah besar yang sedang menyerbu negaranya.

Sebuah rekaman video menunjukkan kelompok belalang terbesar di dunia mencoba menyerang China.

Obat Virus Corona Sudah Ditemukan China, di Indonesia Jenisnya Sudah Dipakai untuk Antimalaria

Sebelumnya ribuan belalang tersebut telah merusak jutaan hektar tanaman di seluruh Afrika Timur.

Miliaran belalang menghancurkan pesediaan makanan di Kenya, Somalia, dan Ethiopia.

Hal ini dilaporkan sebagai wabah terburuk selama beberapa dekade.

Sejumlah penduduk di negara-negara tersebut mengalami kekurangan pangan akibat kemiskinan.

PBB kini memperingatkan tindakan yang akan diambil untuk menghindari masalah lain di kawasan itu.

Tapi jutaan belalang tersebut kini menujukkan telah sampai di perbatasan China.

Ini akan menambah lebih banyak masalah ke negara yang kini sedang berjuang mengatasi masalah virus Corona tersebut.

Detik-detik Ashraf Dilarikan ke IGD Terkuak, Pengakuan Pasien Sebelah Kasurnya: Sampai Kebawa Mimpi

Sebuah video pendek menujukkan ribuan belalang sudah sampai di perbatasan Xinjiang, di barat China, pada 15 Februari 2020.

Terlihat langit biru dipenuhi belalang sejauh mata memandang.

Belalang terbang melintasi Laut Merah ke Eropa dan Asia dalam beberapa hari terakhir.

Negara yang berbatasan dengan China, seperti Pakistan, baru-baru ini menyatakan darurat nasional setelah ribuan belalang menyerbu kawasan tersebut.

Di Tengah Wabah Virus Corona, China Kini Diserang Teror Serbuan Belalang Raksasa dari Afrika

Tapi China telah melakukan antisipasi untuk menahan gempuran miliaran pasukan belalang tersebut.

Mereka mengklaim teknologi modern bisa menahan ribuan belalang yang mengacaukan Afrika tersebut.

Di tengah kekhawatiran belalang, beberapa masyarakat China was-was dan menulis kekhawatirannya di Twitter.

"Saya Khawatir belalang itu akan menjadi pembawa pneumonia (gejala utama virus corona)," tulis seorang di Twitter.

Lainnya mengatakan, "Anda bisa percaya apa yang dikatakan para ahli? dengarkan saja." dikutip TribunJatim.com, Minggu (23/2/2020).

Jawaban Pembina Pramuka SMPN 1 Turi Saat Diingatkan Warga Soal Susur Sungai Bikin Dosen UGM Emosi

Seorang pakar, dikutip oleh Epoch Times, memperingatkan bahwa belalang dapat menimbulkan ancaman langsung ke China, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Untuk melawan belalang, China sudah mengirim ribuan bebek berbaris di jalanan untuk memakan belalang.

Sementara kabar terbaru, ribuan belalang tersebut sedang membanjiri langit Bahrain dan menimbulkan ancaman seperti yang terlihat dalam video di bawah ini.

Sumber: Intisari
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved