KABAR Korban Pernikahan Bubar Paksa Ormas di Solo, Keluarga Umar Assegaf Pilu hingga Respon Gubernur
Inilah kabar keluarga korban pernikahan bubar paksa oleh Ormas di Solo, ternyata keluarga tersebut adalah keluarga Habib Umar Assegaf.
TRIBUNJATIM.COM - Tragedi pernikahan dibubarkan secara paksa oleh Organisasi Masyarakat ( ormas ) di Solo, Jawa Tengah terus diusut polisi.
Kini, diketahui korban amukan brutal ormas itu adalah keluarga Habib Umar Assegaf.
Kondisi korban pernikahan bubar paksa Ormas di Solo pun kini diketahui.
Menanggapi kejadian menegangkan satu itu, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah juga mengungkap komentarnya.
• Tragedi Pernikahan Bubar Paksa Gegara Adat, Pilu Nasib Korban Kebrutalan Ormas,Saksi: Kasihan Aparat
Inilah fakta-fakta selengkapnya yang berhasil dirangkum TribunJatim.com dari TribunSolo.com.
1. Sosok Keluarga Umar Assegaf
Penyerangan acara pernikahan di kawasan Mertodranan, Kelurahan/Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, menimpa keluarga pria bernama Umar Assegaf.
Di media sosial, berhembus kabar bila korban adalah Habib Umar Assegaf.
Tapi, siapa sebenarnya Umar Assegaf yang diserang di Solo?
Umar Assegaf sendiri bukanlah Habib Umar Assegaf asal Bangil, Pasuruan yang sempat menjadi viral beberapa waktu lalu, karena bersitegang dengan petugas PSBB di Surabaya.
• Tragedi Mengerikan Malam Cinta Pasutri, Paginya Istri Tewas Tercekik, Suami Akui: Permainan Bahaya
Tokoh muslim asal Solo, Farid Umar Assegaf, meluruskan bila Umar Assegaf yang menjadi korban, bukanlah Habib Umar Assegaf yang menjadi pengasuh Majelis Roudhotus Salaf di Bangil tersebut.
"Itu salah. Lain orang. Beda orang," ucap dia kepada TribunSolo.com, Senin (10/8/2020).
Sepengetahuan Farid, sosok Umar yang dikenalnya tidak memiliki majelis.
"Beda orang. Beliau tidak punya majelis," tekannya.
2. Kondisi Terkini
Sebelumnya, korban penyerangan acara pernikahan di masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Sebanyak 3 korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Indriarti Solo Baru.
Mereka yakni Umar Assegaf, Hadi, dan Hussein Abdullah.
Perwakilan Keluarga, Memed menyampaikan sebenarnya ketiga sudah diperbolehkan pulang seusai hasil CT-Scan mereka keluar.
"Hasil CT-Scan menyatakan tidak ada cedera dalam, baik di bagian kepala dan bagian dalam, semuanya aman," terang dia, Senin (10/8/2020).
Namun, Umar dan Hussein harus menjalani observasi lanjutan lantaran kondisi yang dialaminya.
"Umar dan Hussein setiap mencoba bangun, kayak terjatuh, dan akhirnya harus menjalani rawat inap dulu untuk observasi lanjutan," jelas Memed.
"Itu juga sudah mendapat surat rekomendasi dari dokter keluarga," tambahnya.
Memed mengatakan hasil observasi diperkirakan akan malam ini.
"Hasil observasi akan diketahui malam ini, untuk keputusannya seperti apa esok hari," tandasnya.
• Tragedi Liburan Keluarga ke Solo Berujung Petaka, Guru SMP Meninggal karena Covid-19, Istri Positif
3. Kronologi Penyerangan
Perwakilan keluarga besar Assegaf bin Jufri akhirnya buka suara mengungkapkan detik-detik penyerangan yang dilakukan sekelompok anggota ormas.
Peristiwa yang mencekam itu berlangsung saat ada upacara doa pernikahan di kawasan Mertodranan, Kelurahan/Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Sabtu (8/8/2020) malam.
Perwakilan keluarga Assegaf bin Jufri, Memed menyampaikan pihaknya saat itu tengah menjalani prosesi midodareni untuk adik perempuannya.
"Tanggal 8 diselenggarakan acara doa bersama, midodareni untuk kelancaran kegiatan akad nikah yang akan dilangsungkan keesokan harinya," terang Memed kepada TribunSolo.com di Polresta Solo, Senin (10/8/2020).Prosesi midodareni, lanjut Memed, berlangsung khidmat dan selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Setelahnya, acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama keluarga.
"Pada saat kegiatan makan itu terdengar teriakan-teriakan dari luar, sekilas tidak terlalu keras," kata Memed.

Memed menuturkan pintu rumah kemudian terdengar terketuk selang 10 menit kemudian.
Pintu saat itu memang ditutup dengan alasan acara internal keluarga.
Perwakilan keluarga lalu membuka pintu dan mendapati Kapolsek Pasar Kliwon, Adis Dani Garta telah berada di hadapannya.
"Beliau mohon izin masuk ke dalam kami persilahkan dan kemudian beliau minta keterangan perihal kegiatan apa yang tadi berlangsung," urai Memed.
"Setelah mendengar penjelasan kami bapak Kapolsek mohon diri menyampaikan kepada pihak yang ada di luar," tambahnya.
Tak berselang lama, Kapolresta Solo, Kombes Pol Andy Rifai juga mengetuk pintu dan melakukan hal serupa dengan Adis.
• Akhirnya Pelaku Fetish Kain Jarik Ditangkap, Cek FAKTA Kronologi, Geledah Kos hingga Respon Orangtua
"Yang teriak makin banyak dan makin keras kurang lebih 15 sampai 30 menit kemudian pintu gerbang diketok kemudian ada arahan dari bapak Kapolres," ujar Memed.
"Untuk tamu-tamu yang hadir di rumah keluarga ini dipersilahkan untuk meninggalkan area atas permintaan pihak-pihak di luar," imbuhnya.
Pihak keluarga, tutur Memed, berharap ada jaminan keaman bila harus ada yang keluar serta meminta massa yang berada di luar rumah untuk segera membubarkan diri.
Terlebih lagi, mereka juga hendak memenuhi undangan keluarga mempelai laki-laki.
Memed menuturkan mereka juga tidak ingin kejadian di medio 2018/2019 terulang kembali.
Sayang, massa diluar enggan mengabulkan permintaan pihak keluarga dan kekeh bertahan meminta mereka keluar.
"Itu tidak memungkinkan untuk keluar dengan aman," tutur dia.
Memed mengungkapkan pihak keluarga meminta polisi supaya memberikan jarak 50 sampai 100 meter antara mereka dan massa.
Permintaan dikabulkan dan sanak keluarga yang memarkirkan mobil di luar kemudian keluar dan bergegas melajukan mobil.
"Mereka hanya mendapatkan intimidasi verbal dan tidak sampai kejadian fisik," ungkap dia.
Massa kemudian mencoba mendekati sanak saudara saat mobil CRV dari dalam rumah keluar.
4. Respon Gubernur Ganjar Pranowo
Menanggapi kejadian ini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ikut buka suara.
Dilansir dari tayangan Youtube Kompas TV, Ganjar mengajak masyarakat untuk membangun segala perbedaan di Solo.
"Kita bisa menceritakan kejadian masa lalu soal kebersamaan untuk bisa mencegah hal ini terulang lagi, komunikasi dan relasi sosial coba kita bangun di Solo." ujar Ganjar.
Ganjar menjelaskan hal ini agar masyarakat bisa bersatu diantara perbedaan suku, agama, golongan, partai politik hingga perbedaan nasib.
"Di Solo itu sebenarnya banyak keindahan yang bisa kita tonton, maka itu yang perlu kita jaga, jangan yang seram saja yang ditampilkan" jelasnya.
Ganjar meyakini jika ini merupakan hal yang tidak mudah namun yakin bisa dilakukan.
"Kalau di Solo ada istilah 'Ayo ning wedangan' sambil minum di angkringan orang bisa mengobrol, suasana kebersamaan ini yang perlu ditingkatkan di masyarakat" ujar Ganjar.
Ganjar menjelaskan kegiatan inilah yang bisa dilakukan untuk merawat ke Indonesiaan di masyarakat.
5. Pesan Keluarga Umar Assegaf
Perwakilan keluarga, Memed di Mapolresta Solo menyampaikan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat.
"Kami memiliki harapan, ini bukan hanya masalah kami, ini masalah kita bersama masalah negeri," kata Memed, Senin (10/8/2020).
"Itu karena rekan-rekan kita di luar itu semacam tidak memiliki penyeimbang informasi sehingga mereka bisa terhasut," tambahnya.
Pihak keluarga, lanjut Memed, akan melakukan langkah hukum maksimal dalam melawan tindakan intoleran yang ada.
"Kami pihak keluarga hendak melaksanakan kerja sama yang maksimal untuk bersama-sama kita melawan intoleransi," ujar Memed.
"Yang ada melakukan langkah hukum yang maksimal, melakukan pressure sosial bersama rekan-rekan sekalian," papar dia.
"Itu agar tindakan anti kemanusiaan tidak boleh terjadi dimana-mana," imbuhnya.
Memed menekankan masalah intoleransi bukan hanya masalah segelintir pihak namun masalah bersama-sama.
"Kami mungkin menjadi awal, rumah keluarga kami menjadi awal untuk di Solo, siapa yang bisa menjami di tempat lain terjadi hal yang sama," tekan dia.
"Ini masalah bukan masalah sempit tapi masalah luas," tandasnya.
Artikel di atas dirangkum dari artikel yang telah tayang di TribunSolo.com dalam topik artikel berjudul Penyerangan Acara Pernikahan di Solo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/lokasi-acara-pernikahan-di-solo-dibubarkan-secara-paksa.jpg)