Breaking News:

Berbiaya Besar, Penyakit Jantung Dijamin Penuh Program JKN-KIS

Adanya Program JKN-KIS bagi penderita penyakit jantung tentu sangat membantu, sebab penanganan kesehatan terhadap penyakit jantung berbiaya besar.

ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Penyakit jantung dijamin penuh program JKN-KIS. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Penyakit jantung, tidak asing di telinga bahwa penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. 

Seperti yang diungkapkan salah satu dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Kabupaten Tulungagung, dr. Evit Ruspiono, Sp.JP,  bahwa penyebab terbesar kematian karena penyakit jantung koroner.

“Penyakit jantung koroner tidak ada penyebab, tetapi yang ada adalah faktor resiko. Pertama, genetik. Kalau orang tuanya ada penyakit jantung koroner, anaknya bisa jadi kena. Kemudian lifestyle, kurang olahraga maka resikonya akan meningkat, faktor lainnya seperti punya hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi. Lifestyle menurut saya ya olahraga itu nomor satu, untuk menurunkan kemungkinan penyakit jantung, nomor dua baru makanan,” ujarnya.

Menurut salah satu pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di Kabupaten Tulungagung ini, adanya Program JKN-KIS bagi penderita penyakit jantung tentu sangat membantu, sebab penanganan kesehatan terhadap penyakit jantung berbiaya besar.

“Dengan berjalannya usia, usia 80 tahun meskipun olahraga, diet pasti penyakit jantung datang, karena salah satu faktor resikonya adalah usia lanjut. Tapi kalau kena di usia 50 tahun kan sayang. Karena penyakit jantung koroner itu hanya bisa dicegah bukan disembuhkan. Jadi kalau terpaksa harus sakit akan memerlukan biaya sangat besar, berkisar puluhan sampai dengan ratusan juta rupiah, misalnya harus dipasang ring atau bedah jantung by pass. Setelah itu harus minum obat-obatan selamanya. Di era JKN, karena dana itu di-cover full ya pasti sangat menguntungkan untuk peserta. Masyarakat akan tenang dalam bekerja tanpa memikirkan lagi biaya yang besar saat terpaksa terkena penyakit tersebut,” terangnya.

Oleh karena itu, ia menghimbau kepada masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS agar mendaftar, sebagai antisipasi terhadap keadaan yang tidak diinginkan terjadi, sebab tidak tahu kapan
akan sakit.

“JKN itu kan asuransi. Asuransi itu kan suatu antisipasi terhadap keadaan yang tidak diinginkan terjadi, dan tidak tau kapan. Mobil saja diasuransikan, apalagi badan, mestinya akan lebih penting, kan kita tidak tau kapan kita sakit, kapan kita serangan jantung dan lain-lain. Harus banyak penyuluhan dan edukasi berkali-kali untuk masyarakat (yang belum ter-cover asuransi, -red). Pemerintah setempat harus turun ke bawah untuk menyadarkan itu sampai jangka panjang. Itu tugas Pemerintah juga, untuk masyarakat,” tegasnya.

Terhadap Program JKN-KIS, ia secara positif mendukung dan berharap program ini terus berjalan dengan
terus memperbaiki kelemahan yang ada, agar nantinya bisa menjadi sempurna.

“Program JKN-KIS ini sudah bagus, Masih 5 tahun berjalan, kalau ada kelemahan itu wajar, perlu diperbaiki. Makanya ada KMKB (Kendali Mutu Kendali Biaya,-red). KMKB itu suatu siklus untuk perbaikan. Jadi suatu program jangan mengharapkan semuanya selesai sempurna. Ya semangat saja untuk memperbaiki, step by step tapi terarah. Teruskan saja, JKN ini program yang sangat baik tetapi butuh kesabaran untuk memulai dan memonevnya. Memang membutuhkan jangka panjang untuk meraih sempurna. Lama-lama akan sempurna. Harus positive thinking,” ujarnya.

Namun, baginya pencegahan selalu lebih baik dari pada pengobatan. Ia mengungkapkan bahwa penyakit jantung bisa dicegah dengan gaya hidup sehat, diantaranya olah raga sejak usia muda , tidak merokok, dan makan makanan yang sehat.

Selain itu penyakit jantung koroner bisa menyerang di usia 40 tahun sampai dengan 90 tahun.

Menurutnya, semakin tinggi usia, faktor resiko juga tinggi, maka kemungkinan terkena penyakit jantung semakin tinggi.

Bila didapatkan kelainan seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi sebaiknya dikendalikan sesuai hasil konsultasi dari dokter keluarga. Bila dokter keluarga mencurigai ada masalah, akan dikonsulkan ke spesialis jantung dan akan dilakukan exercise test (treadmill).

“Bagi saya, nomor satu itu exercise, kalau masih muda bisa aerobic, lari, bersepeda. Kalau usia 50 tahun keatas bisa jalan cepat, sehari 30 menit cukup, karena kalau orang tua biasanya kan lututnya kurang baik. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, dengan cara gaya hidup sehat misalnya, olahraga sejak usia muda, tidak merokok dan makan makanan yang sehat,” jelas dokter spesialis yang berpraktek di RSUD dr Iskak Tulungagung ini.

Editor: Pipin Tri Anjani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved