Pakailah Internet untuk Riset dan Unggah Produk di Media Sosial

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai memukul semua sektor, termasuk sektor IKM dan UMKM. Mereka dituntut tetap bertahan di kehidupan baru adaptif.

Editor: Dwi Prastika
TRIBUNJATIM.COM
Webinar Pelatihan Pengembangan Produk dan Peningkatan Pemasaran Produk IKM. 

"Misalkan saja kita bergerak di bidang makanan. Semisal keripik, keripik apa yang laku di saat pandemi ini. Kita cari melalui Google. Di sana kita bisa melihat. Itu masuk dalam riset, kemudian tinggal kita kembangkan produknya," terangnya.

Tips yang terkahir ialah cara memasarkan produk di saat pandemi. Niskha menjelaskan, berdasarkan survei yang telah dia lakukan saat pandemi, banyak para pelaku usaha yang bertahan karena memasarkan produknya melalui online.

Terutama melalui marketplace yang telah banyak di internet maupun dipasarkan melalui media sosial.

"Alhamdulillah Malang ini masuk kategori daerah yang bertahan. Karena pelaku usaha di sini sudah banyak yang melek teknologi. Caranya pub mudah. Kits tinggal pakai media sosial maupun marketplace," ucapnya.

Khusus untuk pemasaran di media sosial, dia memberikan tips agar pelaku usaha rajin membuat sebuah konten. Agar nantinya, postingan yang telah dibuat bisa menarik orang banyak.

"Intinya itu rajin-rajin bikin konten, di judul harus tertarget agar orang yang mencari di Google bisa langsung masuk. Jangan lupa juga posting video testimoni ataupun manfaat yang bisa menjadi nilai lebih untuk produk Anda," tandasnya.

Webinar Pelatihan Pengembangan Produk dan Peningkatan Pemasaran Produk IKM, 28 Oktober 2020.
Webinar Pelatihan Pengembangan Produk dan Peningkatan Pemasaran Produk IKM, 28 Oktober 2020. (TRIBUNJATIM.COM/RIFKI EDGAR)

11 Faktor Sukses

Di sisi lain Mehdi Riza, pemilik Kebun Sayur Surabaya, banyak berbagi pengalaman selama ini menggeluti usaha membuat kebun sayur. Mehdy menjelaskan untuk menemukan keseimbangan sekaligus memenangkan pertarungan dalam berbisnis, ada tiga hal yang harus dimiliki. Yakni passion, talent, dan uang.

"Tanpa tiga hal itu kita tidak akan bisa berkembang. Misalnya, keinginan tanpa talent tidak akan lengkap," terangnya.

Mehdi lantas bercerita, ia bertanam sayur setelah melihat Surabaya dikepung oleh hotel-hotel dan restoran. Artinya, ini sebuah target peluang untuk menghadirkan sayur yang berkualitas secara cepat.

Mehdi lantas bercocok tanam di tengah kota dengan menggunakan sistem hidroponik.

“Lahannnya hanya 600 meter persegi. Untuk pengembangan pasar, saya memilih bermitra dengan warga sekitar untuk membuat minuman yang disuguhkan untuk tamu,” terangnya.

Ini karena Kebun Sayur Surabaya telah makin dikenal. Banyak sekali instansi, sekolah, yang ingin belajar bertanam dengan hidroponik dengan datang berombongan.

Untuk memperluas pasar, sayur mayur yang dihasilkan pun menjadi produk olahan seperti es krim sayur, minuman jus sayur, dan camilan puding.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved