Breaking News:

BPJS Kesehatan Tulungagung

Pensiunan Guru SD Merasa Beruntung Jadi Peserta JKN-KIS, Ajak Daftar Sebelum Sakit: Penting!

Sumarmi pensiunan guru Sekolah Dasa merasa beruntung jadi peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan. Sebut penting mendaftar sebelum sakit.

Editor: Hefty Suud
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Sumarmi (67), pensiunan guru Sekolah Dasar. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG – Menderita pengapuran tulang lutut tentu tidak mudah bagi Sumarmi (67) yang sudah berusia lanjut.

Tidak hanya itu, pensiunan guru Sekolah Dasar (SD) ini juga menderita diabetes melitus (DM), kolesterol dan asam urat.

Sudah menjadi peserta sejak era PT Askes (Persero), di era Jaminan Kesehatan NasionalKartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) BPJS Kesehatan ini dirinya merasa lebih beruntung.

Selain biaya berobat diringankan, menurutnya, obat yang harus dikonsumsi juga bagus.

“Sejak 2 tahun kemarin diketahui ada pengapuran pada tulang lutut. Untuk jalan sakit sekali, nyeri sekali. Saya juga positif gula (DM), kolesterol dan asam urat. 2 minggu sekali pasti kontrol. Minum obat juga rutin, 4 macam obat, untuk gula dan pengapuran tulang. BPJS itu menguntungkan, kalau berobat meringankan, obatnya juga bagus, maka dari itu saya nggak pernah telat periksa gula. Jujur saya takut,” ucap Sumarmi.

Setelah pensiun, kini keseharian Sumarmi hanya beraktivitas di rumah. Selain itu, Sumarmi juga aktif mengikuti kegiatan Program Pengelolaan penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan.

Ibu 3 anak ini tetap aktif berkegiatan agar tetap sehat.

“Karena sudah tua, ya biasanya bersih-bersih rumah. Sekarang setiap minggu sudah diadakan senam lansia di Prolanis, setiap 6 bulan diadakan check up rutin. Ketemu teman-teman jadi sehat, senang ketemu teman-teman. Semuanya tanpa biaya, Alhamdulillah meringankan beban,” ujarnya.

Oleh karena itu, bagi Sumarmi, memiliki JKN-KIS itu penting, karena akan sangat diringankan dalam segi biaya.

Seperti tetangganya yang pernah mengalami pengalaman tidak mengenakan, ketika mendapatkan musibah dirinya belum memiliki JKN-KIS, sehingga berdampak pada kesehatannya.

“Penting sekali BPJS itu. Tetangga saya belum mengerti tentang BPJS, jatuh, ternyata belum punya BPJS, dibawa ke rumah sakit, disuruh operasi karena patah tulang. Kalau operasi biayanya sekitar Rp 40juta. Terus daftar BPJS, ternyata tidak bisa langsung aktif, akhirnya cuma opname selama seminggu, habis sekitar Rp 12 juta. Setelah BPJS aktif, dilakukan operasi, tetapi karena terlalu lama, katanya operasinya gagal, disuruh operasi lagi nggak mau, kemudian infeksi. Padahal dia tulang punggung keluarga,” terangnya.

Kondisi tersebut disayangkan Sumarmi, sehingga menurutnya memang penting sebelum sakit sudah memiliki JKN-KIS, sebab sakit tidak dapat diketahui kapan datangnya.

“Kalau tidak punya BPJS berobat umum bisa sampai ratusan biayanya, kalau pakai BPJS gratis, ndak ada biaya sama sekali. Yang penting tertib pembayarannya, termasuk kelas berapa menurut kemampuan, walaupun kelas 3 ndak apa-apa. Sakit itu datangnya nggak tau, perginya kapan nggak tau. Ya susah kalau nggak punya BPJS. Saya berterima kasih sekali dengan adanya BPJS, semua teratasi, menyelamatkan orang lain, menolong orang lain,” pungkasnya.(ar/ck)

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved