Benarkah Vaksin Pejabat Beda dari Masyarakat? Najwa Shihab Soroti Jokowi, Menkes Tekankan Kecepatan
Vaksin pejabat ternyata berbeda dari masyarakat, isu tersebut akhirnya dibantah langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi.
Penulis: Ignatia | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM - Ada perbincangan hangat terkait vaksin yang kini sedang ramai dibicarakan, yakni isu bahwa ada perbedaan pemberian vaksin antara pejabat dengan masyarakat biasa.
Isu ini pun disoroti jurnalis dan pembawa acara Najwa Shihab.
Najwa Shihab berbincang langsung dengan Menkes Budi Gunadi.
Sang menteri langsung menanggapi hal itu dengan gamblang.
Hadir sebagai narasumber tamu di acara Mata Najwa, akhirnya perbincangan soal vaksin Covid-19 mulai mendapat titik terang.
Menkes Budi Gunardi menjawab tegas isu yang disampaikan oleh Najwa terkait perbedaan antara vaksin para pejabat dengan masyarakat biasa.
Najwa Shihab lantas membacakan pertanyaan dari netizen mengenai kekhawatiran atas vaksin yang akan diberikan.
"Pertanyaan dari akun kauman_lallana. Kita tahu masyarakat Indonesia dapat vaksin gratis. Permasalahannya Indonesia memesan vaksin tak hanya satu. Jadi pertanyaannya masyarakat biasa nanti diberikan vaksin buatan siapa? jangan-jangan pejabat mendapatkan vaksin kualitas terbaik," ucap Najwa Shihab.
Pantauan TribunJatim.com dari kanal YouTube Najwa Shihab, tampak sang host menunjukkan layar yang menampilkan komentar netizen tersebut.
Setelah diberikan kesempatan menjawab, sang menteri pun membantah isu yang tidak benar tersebut.
Budi Gunadi menerangkan bahwa semua vaksin yang diterima Indonesia dari China ada dalam boks dan kemasan awal yang sama.
Hal itu menyimpulkan tidak akan ada perbedaan antara vaksin yang akan diedarkan.
Termasuk vaksin yang akan disuntikkan kepada Presiden Jokowi hingga Menteri Kesehatan sendiri.
"Sinovac dari China sudah datang di Januari-Maret, jadi nanti siapapun yang divaksin duluan pasti mendapatkan vaksin tersebut, termasuk saya," aku Budi Gunadi.
"Dan Pak Jokowi?" timpal Najwa penasaran.
"Ya betul (termasuk Jokowi)," ungkapnya.
Menkes pun menerangkan bahwa semua yang berkaitan dengan vaksin prioritas utamanya adalah soal kecepatan.
Sebab, hingga saat ini diketahui kasus Covid-19 di Indonesia ada dalam angka yang mengkhawatirkan.
"Sekarang pertanyaannya vaksinnya bagus atau tidak? yang lebih baik merek apa? Saya tanya sama semua ahli epidemiologi, yang penting itu safetynya bagaimana dan hal itu sudah kelihatan di clinical trial pertama dan kedua."
"BPOM menyetujui atau tidak, apa yang ada itu harus cepat digunakan," jelas Budi Gunadi.

Budi mengingatkan, vaksinasi harus cepat dilakukan karena sekitar 150-200 jiwa melayang per hari di tengah Pandemi Covid-19.
"Satu bulan bisa mencapai 6 ribu jiwa meninggal. Kita mau tunggu 6 ribu jiwa mati tiap bulan untuk menunggu vaksin yang bagus? saya rasa tak manusiawi," papar Budi Gunadi.
Semua vaksin yang telah masuk clinical trial 3 dan masuk ke dalam list WHO maka keamanannya telah teruji.
Tak hanya itu, vaksin yang masuk ke Indonesia juga sudah disetujui BPOM, yang berarti semua merek sama saja.
"Yang paling cepat yang kita ambil," aku Budi Gunadi.
Sementara itu, pengedaran vaksin yang dijanjikan akan diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia saat ini sedang dalam proses perampungan oleh pemerintah.
Vaksin Sinovac menjadi vaksin yang diedarkan oleh pemerintah kepada masyarakat.
Sebagai BUMN yang ditugaskan menyimpan dan menguji klinis vaksin tersebut, Bio Farma akhirnya membeberkan isi kandungan dari Vaksin Sinovac yang siap diedarkan ke 34 provinsi.
34 Provinsi kini bersiap terima vaksin yang sudah dinanti-nanti ini.
Juru Bicara Vaksin Covid-19 dari PT Biofarma Bambang Herianto mengatakan, mulai Minggu (3/1/2021), akan dilakukan pendistribusian vaksin Covid-19 ke 34 provinsi.
Soal persiapan terutama rantai dingin dipastikan sudah dipersiapkan dengan baik oleh Biofarma.
"Semua rantai dingin di 2 derajat celcius sampai 8 derajat celcius, insya Allah kita sudah siap, sehingga vaksin nanti yang akan digunakan di masyarakat benar-benar terjamin mutu dan kualitasnya dapat dijaga rantai dingin pendistribusiannya sampai dengan di Puskesmas atau bila perlu nanti di posyandu," ujar Bambang dalam konferensi pers virtual Kementerian Kesehatan, Minggu (3/1/2021), dikutip dari Kontan.
Bambang mengatakan, vaksin yang digunakan untuk program vaksinasi mendatang bukan vaksin yang digunakan untuk uji klinis.
Baca juga: Jadwal Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Jokowi Orang Pertama Disuntik, Masyarakat Tetap Disiplin 3M
Baca juga: 48 Faskes Disiapkan untuk Pelaksanaan Vaksin Covid-19 di Bojonegoro, Jubir: 1 Faskes 1 Tim Nakes
Baca juga: JADWAL Vaksinasi Covid-19 Mulai 22 Januari 2021, Simak Tahapan Penerima, Target 15 Bulan Selesai?
Kemasan vaksin yang akan digunakan dalam program vaksinasi corona mendatang berjenis vial single dose dan tidak ada penandaan 'only for clinical trial'.
Adapun vaksin uji klinis memiliki kemasan PFS, dimana jarum suntik dan wadah vaksin terpisah serta terdapat penanda 'only for clinical trial'.
"Jadi vaksin covid-19 saat ini sudah berada di Biofarma, dan akan digunakan untuk program vaksinasi nantinya akan menggunakan vaksin yang telah mendapat izin penggunaan dari Badan POM sehingga kemasannya pun akan berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk keperluan uji klinis," jelasnya.
Bambang juga mengklarifikasi bahwa tidak benar jika vaksin Covid-19 yang akan digunakan mengandung Vero Cell.
Vero Cell, kata Bambang, tidak akan terbawa hingga proses akhir pembuatan vaksin.
Ia menambahkan, vaksin corona produksi Sinovac merupakan jenis in activated virus atau virus yang dimatikan.
In activated virus merupakan cara umum yang biasa digunakan dalam pembuatan vaksin.
Kandungan vaksin Covid-19 dari Sinovac lainnya ialah alumunium hidroksida sebagai adjuvant untuk meningkatkan kemampuan vaksin, kemudian larutan fosfat sebagai penstabil dan larutan garam atau natrium klorida (NaCL) sebagai isotonis.
"NaCL sebagai isotonis untuk memberikan kenyamanan dalam penyuntikan, larutan garam tentu memenuhi standar farmasitical. Vaksin ini diproduksi tidak menggunakan pengawet. Dan tidak mendung bahan lain kayak boraks formalin dan merkuri. Ini sudah diuji di bawah pengawasan BPOM," ujar Bambang.
Baca juga: Jadwal Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Jokowi Orang Pertama Disuntik, Masyarakat Tetap Disiplin 3M
Baca juga: Baru Ditunjuk Jokowi Jadi Menteri Sosial, Risma Langsung Bikin Janji, Beri Pesan ke Warga Surabaya