Berita Arema FC

Terlalu Sering Di-PHP Soal Lanjutan Kompetisi, Arema FC Kini hanya Bisa Pasrah

Manajemen Arema FC secara terang-terangan mengaku keyakinannya mengenai kompetisi 2020 sudah menurun.

Penulis: Dya Ayu | Editor: Taufiqur Rohman
KOMPAS.com/Suci Rahayu
Pemain Arema FC latihan perdana jelang dilanjutkannya kompetisi Liga 1 2020 di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (03/08/2020) sore. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Dya Ayu

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Manajemen Arema FC secara terang-terangan mengaku keyakinannya mengenai kompetisi 2020 sudah menurun.

Ini tak lepas dari jalan buntu yang didapat PSSI dan PT LIB dalam mendapatkan restu pihak kepolisian.

Baca juga: Ucapan Duka Cita Arema FC atas Musibah Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182

Baca juga: Sosok Alfie Devine, Remaja 16 Tahun Pencetak Sejarah di Tottenham Hotspur

Disampaikan General Manager Arema FC, Ruddy Widodo semula Singo Edan jadi klub paling semangat dan yakin kompetisi dapat kembali bergulir.

Tapi karena terus di PHP, dari yang semula akan kembali dimulai Oktober 2020, kemudian jadi November dan terakhir awal Februari 2021 mendatang, namun tak kunjung dapat izin dari polisi, akhirnya keyakinan itupun surut.

"Iya, dulu kami sangat optimis kompetisi berlanjut. Kemudian turun jadi optimis saja. Sekarang optimisme kami turun lagi, sampai kami katakan apapun judulnya, apapun lebelnya terserah, yang penting ada sepak bola," kata Ruddy Widodo, Senin (11/1/2021).

Bagi Ruddy, saat ini klub tak perlu berharap terlalu tinggi kompetisi dapat bergulir kembali, yang terpenting ialah ada pertandingan sepak bola, entah event apapun.

Baca juga: Hasil Pertandingan Piala FA, Manchester City dan Chelsea Kompak Menang

Baca juga: Hasil AS Roma Vs Inter Milan - Bermain Imbang, Nerazzurri Masih Tempel AC Milan

"Dulu kami ngotot kompetisi digelar kembali, sekarang apapun pertandingannya, apapun judulnya terserah yang penting ada sepak bola. Dari situ nanti semua akan belajar. Pihak keamanan belajar, pihak kesehatan belajar, tim-tim sepak bola juga belajar harus seperti apa," jelasnya.

Tak hanya merugi secara finansial, berhentinya kompetisi hampir satu tahun ini juga menjadikan pemain dan pelatih sebagai korban. Sebab secara langsung sumber penghidupan pemain berhenti, sekalipun tetap mendapat gaji 25 persen tiap bulannya.

"Kenyataanya kompetisi sekarang berhenti tanpa ada aktivitas apapun. Feeling ball pasti hilang. Belum lagi industrinya, pasti juga terhenti dan merugi," ujar pria berkacamata itu.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved