Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Kasus Lain Pesawat Sriwijaya Air Sehari Sebelum Tragedi SJ182, 4 Kali Mutar, Tragedi Lainnya Selamat

Ternyata sehari sebelum tragedi SJ182 sempat terjadi hal aneh juga dengan pesawat lain yang berputar di udara sampai 4 kali.

Penulis: Ignatia | Editor: Sudarma Adi
Tribun Timur
Maskapai Sriwijaya Air detik-detik menerbangkan pesawat 

TRIBUNJATIM.COM - Tak banyak yang tahu ternyata ada kasus lain yang juga menimpa pesawat dari maskapai yang sama, Sriwijaya Air.

Tragedi tersebut untungnya tidak sampai melahirkan korban jiwa.

Kasus lain pesawat Sriwijaya Air terjadi tepat sehari sebelum tragedi Sriwijaya Air SJ182 jatuh berlangsung.

Tepatnya pada Jumat (8/1/2021), pesawat Sriwijaya Air sempat berputar di udara hingga 4 kali.

Sampai berakhir kembali lagi ke bandara demi keselamatan penumpang.

Baca juga: Pantas Kakak Kopilot Sriwijaya Air Yakin Diego Selamat, Dibesarkan di Keluarga Tak Biasa: Sudah Tahu

Tragedi lain yang juga mirip terjadi dengan pesawat Sriwijaya Air SJ-591, pada Jumat (8/1/2021).

Ada permasalahan pada mesin yang membuat akhirnya pesawat beranggotakan penumpang 60 orang itu kembali ke bandara lagi.

Dikutip dari penelusuran Tribun Timur, TribunJatim.com merekam cerita selengkapnya tragedi yang terjadi.

Menurut Tribun Timur, pesawat itu empat kali berputar di udara, pesawat Sriwijaya Air SJ-591 tujuan Jakarta kembali ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Pesawat udara dari maskapai Sriwijaya Air bernomor penerbangan SJ-591 kembali mendarat return to base di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, di Maros, Sulawesi Selatan, Jumat (8/1/2021).

Baca juga: Diego Mamahit Disebut Sosok Tangguh, Keluarga Yakin Sang Copilot Sriwijaya Air Selamat: Tuhan Baik

Penerbangan bernomor SJ-591 tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta di Cengkareng, Tangerang, Banten.

Informasi Sriwijaya Air SJ 591 return to base disampaikan salah seorang penumpang.

Situs monitor penerbangan sipil Flightradar24.com memang menunjukkan jika penerbangan bernomor SJ-591 bermasalah.

Dikutip dari Flightradar24.com, pesawat take-off dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar pada pukul 19:04 Wita dari jadwal pukul 18:15 Wita.

Baca juga: Transkrip Pembicaraan Pilot Sriwijaya Air Sebelum Jatuh Muncul, KNKT: Dikaji, ini Daftar Temuan Lain

Namun, saat berada di atas sekitar Selat Makassar atau beberapa menit mengudara, pesawat putar haluan kembali ke bandara asal.

Pesawat yang digunakan untuk penerbangan SJ-591 adalah Boeing 737-800 dengan nomor registrasi PK-CRI.

Pesawat ini sudah berusia 11,4 tahun sebagaimana data dari laman Planespotters.net.

Pesawat ini juga pernah digunakan maskapai asal Irlandia Goshawk Aviation dengan nomor registasi M-ABLC.

Sebelumnya, digunakan maskapai Air China dengan nomor registrasi B-5438 sejak 2009 hingga 2017.

Pesawat Sriwijaya Air SJ182
Pesawat Sriwijaya Air SJ182 (Kompas.com)

Sriwijaya Air baru mengoperasikannya sejak tahun 2019.

Berdasarkan penjejakan (tracking) di Flightradar24.com, pesawat tampak berputar-putar sebanyak 4 kali di atas wilayah Makassar dan Kabupaten Gowa sebelum berhasil mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Belum diketahui penyebab pasti SJ-591 return to base.

“Pesawat sepertinya mengalami gagal mesin. Mohon doanya untuk diberi kelancaran dan keselamatan selalu,” ujar salah seorang penumpang.

Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I SHIAM (Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar), Iwan Risdianto, membenarkan adanya kejadian ini.

Jejak terakhir pesawat lain Sriwijaya Air yang beroperasi sebelum SJ182.
Jejak terakhir pesawat lain Sriwijaya Air yang beroperasi sebelum SJ182. (FlightRadar24)

"Iya benar. Pesawat Sriwijaya dengan nomor penerbangan 591, tujuan UPG - JKT," ujarnya saat dihubungi, Jumat malam.

PK-CRI berdasakan data dari Flightradar24.com sempat melayani penerbangan di Indonesia Timur pada Jumat hari ini.

Rute yang dilayani pada tanggal 8 Januari 2021 hari ini adalah:

  • Jakarta (CGK) - Makassar (UPG) dengan nomor penerbangan SJ-584
  • Makassar (UPG) - Sorong (SOQ) dengan nomor penerbangan SJ-570
  • Sorong (SOQ) - Manokwari (MKW) dengan nomor penerbangan SJ-570
  • Manokwari (MKW) - Jayapura (DJJ) dengan nomor penerbangan SJ-610
  • Jayapura (DJJ) - Manokwari (MKW) dengan nomor penerbangan SJ-611
  • Manokwari (MKW) - Sorong (SOQ) dengan nomor penerbangan SJ-571
  • Sorong (SOQ) - Makassar (UPG) dengan nomor penerbangan SJ-571
  • Makassar (UPG) - Jakarta (CGK) dengan nomor penerbangan SJ-591

Baca juga: Postingan Terakhir YouTuber Faisal Rahman di Pesawat Bak Perpisahan, Goodbye, Banjir Ucapan Duka

Sementara itu, tragedi yang menimpa pesawat Sriwijaya Air SJ182 ini sebenarnya serupa tetapi tak sama dengan masalah yang pernah dialami oleh pesawat Garuda Indonesia tahun 2002 silam.

Beruntungnya, pesawat ini berhasil mendarat dengan selamat.

Dalam penerbangan, masalah mesin ataupun badan pesawat memang riskan.

Mesin mati saat pesawat sedang mengudara merupakan satu tantangan tersendiri.

Pernah pada 16 Januari 2002, sebuah pendaratan darurat dilakukan meskipun mesin pesawat mati.

Mengutip Kompas.com, 19 tahun yang lalu, pesawat B737-300 Garuda Indonesia penerbangan GA421 berhasil ditching atau mendarat darurat di anak sungai Bengawan Solo.

Disebutkan sebabnya adalah kedua mesin pesawat mati saat terbang akibat menembus badai hujan dan es.

Pesawat dengan rute Lombok-Yogyakarta itu membawa 54 penumpang dan 6 kru.

Garuda yang tenggelam di Bengawan Solo
Garuda yang tenggelam di Bengawan Solo (Kompas.com)

Seluruh penumpang selamat, tetapi seorang kru awak kabin ditemukan tewas, diduga akibat benturan saat pesawat mendarat.

Peristiwa itu menghasilkan salah satu masukan yang penting untuk dunia penerbangan, khususnya pabrikan mesin pesawat berdasar investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

GA421 dijadwalkan terbang dari Selaparang, Mataram, pada pukul 15.00 WITA.

Pesawat B737-300 registrasi PK-GWA yang dipiloti oleh Kapten Abdul Rozak itu kemudian menuju ketinggian jelajah 31.000 kaki.

Pesawat dijadwalkan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 17.30 WIB.

Namun saat meninggalkan ketinggian jelajah untuk turun ke bandara Adisutjipto, di atas wilayah Rembang, kapten penerbangan memutuskan untuk sedikit menyimpang dari rute seharusnya, atas izin ATC.

Pesawat Garuda Indonesia
Pesawat Garuda Indonesia (Kompas.com)

Hal itu dilakukan karena di depan terdapat awan yang mengandung hujan dan petir.

Kru pesawat mencoba untuk terbang di antara dua sel awan badai.

Sekitar 90 detik setelah memasuki awan yang berisi hujan, saat pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki dengan kondisi mesin dalam posisi idle, kedua mesin tiba-tiba mati dan kehilangan daya dorong (thrust).

Pilot dan kopilot pun saat itu mencoba untuk menghidupkan unit daya cadangan (auxiliary power unit/APU) untuk membantu menyalakan mesin utama, tetapi tidak berhasil.

Penyelidikan yang dilakukan menyebut bahwa kru kokpit mencoba menyalakan mesin dengan interval setiap satu menit.

Manual B737 yang dikeluarkan Boeing menyebut APU mesti dinyalakan dalam interval 3 menit sekali.

Ketika pesawat sampai di ketinggian 8.000 kaki, dan kedua mesin belum berhasil di-restart, pilot melihat alur anak sungai Bengawan Solo dan memutuskan untuk melakukan pendaratan di sana.

Pesawat pun melakukan ditching tanpa mengeluarkan roda pendaratan maupun flaps (menjulurkan sayap).

Baca juga: Misteri Sriwijaya Air SJ 182 Jatuh, Sempat Dikandangkan 9 Bulan, Umur Pesawat 26 Tahun Laik Terbang?

Baca juga: Terbangkan Pesawat Sama, Captain Koko Soroti Fase Kritis 4 Menit Sriwijaya Air Jatuh: Bakal Ketahuan

Sumber: GridHot.id
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved