Cegah Bahaya Banjir Lahar Dingin, Bupati Lumajang Bakal Dirikan Pos Pantau

Bupati Lumajang Thoriqul Haq mendatangi Besuk Kobokan, Desa Sumbersari, Kecamatan Supiturang, Senin  (18/1/2021).

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Januar
TRIBUNJATIM.COM/TONY HERMAWAN
Bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat ditemui di kantornya, Senin (28/12/2020) 

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Pasca Gunung Semeru kembali terjadi erupsi, 

Bupati Lumajang Thoriqul Haq mendatangi Besuk Kobokan, Desa Sumbersari, Kecamatan Supiturang, Senin  (18/1/2021). 

Dalam kesempatan itu, Bupati Thoriq melakukan diskusi dengan petugas BPBD dan Kapolres Lumajang, AKBP Eka Yekti Hananto Seno guna mengantisipasi bahaya banjir lahar dingin pasca Gunung Semeru kembali memuntahkan lava. 

Menurut Thoriq, setelah Gunung Semeru kembali mengeluarkan lava kemarin, terkini kondisi sedimentasi lahar panas di lereng gunung bisa bertambah. 

Baca juga: BREAKING NEWS, Golkar Berduka, Anggota DPR RI Sekaligus Senior Partai Gatot Sudjito Meninggal Dunia

Dengan kondisi itu, jika kawasan lereng diguyur hujan lebat maka akan rawan terjadi banjir lahar dingin.

"Ini kan jelas bahaya. Nah untuk antisipasi   itu kami menyiapkan langkah agar tidak mengancam keselamatan masyarakat," kata Thoriq, Senin (18/1/2021)

Dalam waktu dekat, ia berencana akan mendirikan pos pantau di Besuk Kobokan.

Pos pantau ini nantinya akan bertugas mendeteksi banjir lahar dingin secara dini.

"Karena kalau sudah banjir bahayanya tidak hanya pada satu lokasi tapi juga sampai bawah," ujarnya.

Selain pos pantau berfungsi untuk memantau potensi dini banjir lahar dingin, diharapkan juga bisa mengawasi keselamatan pekerja penambang pasir. 

Sebab, nyatanya meski bahaya banjir lahar kerap mengintai keselamatan warga, di beberapa besuk masih banyak penambang pasir yang nekat bekerja.

"Jadi bisa langsung menginformasikan di bawah karena saya gak mau lagi dengar insiden truk keseret lahar," tegasnya.

Tak hanya itu, Thoriq juga akan bekerja sama dengan jajaran BPBD, TNI, dan Polri untuk mensosialisasikan agar penambang bisa lebih peduli akan keselamatannya.

"Jadi harus ada pasukan yang harus terus sosialisasi agar penambang mau berhenti kerja ketika ada ancaman banjir lahar. Tapi di sisi lain juga harus terbangun sambungan informasi yang cepat," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved