Berita Surabaya
Over Capacity RS, Kurangnya Nakes Jadi Pembahasan Utama Rakor di Bangkalan
Bupati Bangkalan, R. Abdul Latif Amin Imron mengatakan, wilayah yuridisnya mengalami peningkatan kasus Covid-19 beberapa hari terakhir.
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Yoni Iskandar
Reporter : Luhur Pambudi | Editor : Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bupati Bangkalan RK Abdul Latif Amin Imron mengatakan, wilayah yuridisnya mengalami peningkatan kasus Covid-19 beberapa hari terakhir.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan, semula hanya ada sekitar 12 kasus Covid-19 baru, namun meningkat menjadi 322 kasus.
Peningkatan kasus baru tersebut, terjadi di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Arusbaya, Geger, Klampis, dan Bangkalan.
Menyiasati hal tersebut, Abdul Latif mengaku telah mempersiapkan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) dan menggencarkan mekanisme testing melalui screening pengendara di Jembatan Suramadu.
Berdasarkan data yang dihimpunnya. Mekanisme penyekatan Jembatan Suramadu dan Pelabuhan Kamal, yang dimulai sejak Senin (7/6/2021), telah menjangkau 1.364 orang warga untuk menjalani tes kesehatan; rapid test antigen.
Hasilnya, 28 orang teridentifikasi reaktif. Setelah dilakukan swab test PCR, ternyata delapan orang diantaranya terkonfirmasi positif Covid-19.
"Tadi akses Suramadu dan Pelabuhan Kamal, dengan hasil akses Suramadu jumlah orang yang dilakukan rapid antigen," ujarnya usai rapat koordinasi Penanganan Covid-19 di Pendapa Agung, Bangkalan, Selasa (8/6/2021).
Sedangkan, untuk screening terhadap tenaga kesehatan (nakes) di fasyankes yang ada di Bangkalan tercatat sedikitnya 76 orang nakes terkonfirmasi positif Covid-19.
Baca juga: 41 KTP Pengendara Kabur dari Tes Kesehatan Jembatan Suramadu Disita Satpol PP Surabaya
Rinciannya, 50 orang terkonfirmasi positif Covid-19, dari data awal. Kemudian ditambah, 26 orang nakes dari RSUD Syamrabu.
"Total ada 76 nakes kita positif terkonfirmasi. Termasuk tiga nakes yakni dokter, bidan, dan perawat yang meninggal. Ada juga yang sembuh tapi belum kami total,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan, Sudyo.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Samrabu), untuk melakukan mekanisme rujukan penanganan pasien ke RSU dr Soetomo, mengingat jarak Bangkalan ke Surabaya terbilang dekat.
Ia juga mengimbau pada fasyankes; RS yang telah mencapai Bed Occupancy Rate (BOR) 80% untuk segera merujuk ke RS lain yang menjadi penyangga layanan.
Istilahnya, merujuk, bukan menolak pasien. RS Samrabu ditetapkan oleh Tim Satgas Covid-19 memiliki enam RS penyangga. Dua RS diantaranya adalah RSU dr Soetomo dan RS Asrama Haji.
Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu tidak ingin RS Samrabu mengalami over capacity, oleh karena itu relaksasi kapasitas RS juga tetap diperhatikan.
"RSU dr Soetomo ini alatnya sangat lengkap, dokternya sangat komplit, BOR-nya sangat rendah. Sehingga dimungkinkan untuk bisa dijadikan rujukan utama," kata Mantan Menteri Sosial (Mensos-RI) itu.
Hingga saat ini, RS yang terkategori memiliki BOR rendah adalah Rumah Sakit Darat Lapangan (RSDL) di Indrapura Surabaya.
Bahkan dalam waktu dekat, ungkap Khofifah, pihaknya sedang menyiapkan RS sementara memanfaatkan eks-bangunan BPWS di kaki Jebatan Suramadu, sisi Bangkalan.
"Jadi sebetulnya area-area yang mungkin kita sebut karantina, mungkin kita sebut transit tapi bukan RS darurat lapangan," jelasnya.
Termasuk untuk para nakes, Khofifah mendorong agar pihak RS agar memberikan porsi yang cukup kepada nakes untuk memperhatikan kesehatannya juga.
Paling tidak, ada skema kerja dengan mekanisme; dua pekan bertugas, dua pekan istirahat, yang bisa dimanfaatkan untuk kembali ke keluarga.
"Kalau akan kembali ke keluarga ini harus di PCR, memastikan saat kembali ke keluarga mereka dalam keadaan sehat," pungkasnya.
Kemudian, meninjau kondisi kasus Covid-19 di Jatim, Menteri Kesehatan (Menkes-RI) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, hal penting untuk mengatasi permasalahan kondisi kasus Covid-19 di Jatim, khususnya Bangkalan yang menjadi sorotan, yakni mengurai tekanan kapasitas RS yang terlampau penuh.
Ia mengaku juga sudah berkomunikasi dengan jajarannya di Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Menkes-RI untuk berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk berkoordinasi dengan pihak Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan di Surabaya untuk mengirim bantuan personel nakes ke Fasyankes di Bangkalan.
Selain itu, pihaknya juga telah memberikan suplai alat medis, berupa ventilator sejumlah 30 unit, dan 30 Ribu Vaksin Covid-19.
"Saya kirim perawat-perawatnya, di sini supaya bisa bergantian, karena kalau enggak, kasihan capek itu nakes yang ada di Bangkalan," katanya kepada TribunJatim.com.
Sedangkan, Kepala Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB-RI) Letjen TNI Ganip Warsito mengatakan pentingnya adanya posko Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai upaya mencegah potensi penularan Covid-19.
Karena melalui peran PPKM penegakan kedisiplinan prokes dapat terus dimaksimalkan. Terutama penggunaan masker, karena mampu menangkal potensi penularan berbagai macam virus hingga 95%.
"Kita akan terus mengajak tokoh masyarakat, terutama para kiai, ketua MUI, dan sesepuh disini untuk bisa mengajak masyarakat semua disiplin prokes, disiplin menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas," pungkas Letjen TNI Ganip kepada TribunJatim.com.
Berita tentang Kasus covid-19
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-bupati-bangkalan-rk-abdul-latif-amin-gubernur-jatim-khofifah-indar-parawansa.jpg)