Breaking News:

Berita Kabupaten Malang

WALHI Jawa Timur Mengkritik Rencana Pembangunan Jembatan Kaca di Kawasan TNBTS

WALHI Jawa Timur mengkritik rencana pembangunan jembatan kaca di Kawasan TNBTS, sebut soal kerusakan alam dan juga erosi kultural.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com/WALHI Jatim
Potret lereng di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang mulai gundul, 2021. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Erwin Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur mengkritik rencana pembangunan jembatan kaca beserta infrastruktur di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Organisasi pegiat lingkungan tersebut menilai, pembangunan jembatan kaca dapat mengancam kelestarian ekologi dan adat.

"Kerusakan (alam) dan juga erosi kultural. Berdampak pada ekologi itu fisiknya. Orang Tengger melihat kawasan Jemplang itu sebagai pintu masuk menuju tanah suci, makanya dia pamit ke luluhur lewat menaruh sesajen. Istilahnya pamit ke leluhur. Karena akan menuju ke dasar, lautan pasir sebagai kawasan suci. Supaya tidak nahas atau sial," beber Dewan Daerah WALHI Jawa Timur (Jatim), Purnawan Dwikora ketika dikonfirmasi, Minggu (26/9/2021).

Kata Purnawan, proyek tersebut didirikan di lahan yang masuk dalam zona konservasi, yakni di Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Wilayah tersebut juga masuk dalam kawasan masyarakat Suku Tengger.

Secara kearifan lokal, erat berkaitan antara konservasi alam dengan konservasi kultural.

"Orang datang ke Bromo itu adalah untuk menikmati keindahan panorama alam. Bukan untuk selfie di atas jembatan kaca. Sekali lagi, itu (jembatan kaca) adalah buatan. Itu adalah benda artificial yang dilekatkan ke panorama alam, itu tidak tepat," katanya.

Baca juga: Jazz Gunung Bromo 2021 Mengobati Rasa Rindu Menonton Konser Musik secara Langsung

Purnawan pun mendesak otoritas terkait agar memperhatikan keasrian alam di Bromo.

"Jangan mikir bisnis yang menurunkan nilai-nilai konservasi," tandas pria yang akrab disapa Pupung itu.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved