Breaking News:

Berita Lumajang

Tak Semua Buruh Tani Tembakau di Lumajang Mendapat Bantuan dari Cukai Rokok, Ini Kategorinya!

Tidak semua buruh tani tembakau di Lumajang mendapatkan bantuan dari Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau, ini kategorinya!

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Tony Hermawan
Sanom, buruh tembakau asal Kecamatan Tempeh, Lumajang, saat menjemur tembakau, Senin (27/9/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Ribuan buruh pabrik rokok dan buruh tani tembakau warga Lumajang, Jawa Timur, segera menerima bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 300 ribu selama 8 bulan dari Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau.

Akan tetapi, tidak semua buruh tani tembakau mendapat bantuan tersebut.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Kabupaten Lumajang, Murdiyanto, menyebut, setidaknya ada 1.697 orang pada akhir September 2021 ini akan mendapat subsidi.

Mereka adalah para buruh tembakau yang bermitra dengan perusahaan rokok. Sedangkan untuk kategori pekerja, yakni buruh pabrik yang memiliki izin produksi.

Sementara para petani tembakau lokal dipastikan tidak mendapat bantuan.

"Yang lokal tidak kami beri, karena untuk konsumsi tingwe. Tidak termasuk barang kena cukai. Jadi hanya mengcover para buruh yang produksi untuk bahan baku rokok pabrikan," katanya, Senin (27/9/2021).

Murdiyanto menyebut, pemerintah sengaja memberikan bantuan kepada para pekerja pabrik rokok dan buruh tembakau yang bermitra, lantaran berkontribusi besar menyumbang cukai.

Sehingga menurutnya menjadi hal lumrah jika 35 persen hasil cukai tersebut dikembalikan kepada para buruh dan pekerja tembakau.

"Program ini semoga bisa meringankan beban para buruh petani tembakau dan buruh rokok, terutama di masa pandemi Covid-19," harapnya.

Sementara itu, Sanom buruh tembakau asal Kecamatan Tempeh Lumajang mengaku senang mendengar pemerintah segera menggelontorkan bantuan.

Baca juga: Siap-siap, 1.697 Buruh Tembakau Akan Dapat Rp 1,5 Juta dari Cukai Rokok pada Akhir September

Pasalnya, dua tahun terakhir musim hujan bersamaan dengan masa panen.

Kondisi itu membuat banyak daun tembakau turun kualitas. Walhasil, tidak sedikit daun tembakau tidak terserap maksimal ke pabrik. Sehingga dua tahun ini banyak petani merasakan gagal panen.

"Semoga beneran bisa turun bantuannya. Dan tidak ada oknum-oknum yang menyunat bantuan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved