Berita Surabaya
Bangun Optimisme Kota Surabaya Bisa Lalui Gelombang Covid-19 Omicron
Warga Surabaya diminta tetap tenang dan tidak perlu cemas menghadapi gelombang ketiga Covid-19, karena sudah disiapkan langkah-langkah antisipatif.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Dwi Prastika
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Nuraini Faiq
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Warga Kota Surabaya diminta tetap tenang dan tidak perlu cemas menghadapi gelombang ketiga Covid-19 (virus Corona) saat ini, karena sudah disiapkan langkah-langkah antisipatif.
Apalagi saat ini capaian vaksinasi Covid-19 untuk warga juga sudah tinggi. Bahkan vaksinasi dosis ketiga atau vaksinasi booster juga terus dikebut.
"Harus terus optimistis. Kita yakin dengan bekerja bersama-sama, kita bisa melalui gelombang ketiga ini," kata Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Reni Astuti, Minggu (13/2/2022).
Pimpinan dewan ini mengaku bisa merasakan kejenuhan dalam menghadapi virus ini. Karena dampak dari penyebarannya berakibat pada aktivitas yang tidak bisa leluasa dan serba dibatasi. Belum lagi diikuti dampak ekonomi. Saat ini, yang diperlukan adalah penguatan protokol kesehatan (prokes) 5M.
Warga saat ini sudah memiliki kebiasaan dalam menerapakan prokes. Reni Astuti mengaku yakin, lonjakan kasus Covid-19 akan bisa dilalui. Dia mengajak semua warga Surabaya untuk mempunyai karakter hidup sehat dan bersih.
"Saat ini warga juga sedang menantikan momentum bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Tentu kita harapkan penyebaran Covid-19 bisa ditekan, sehingga dua momen itu bisa dilalui dengan bahagia. Butuh kolaborasi semua pihak. Mari makin adaptif dan bahagia,” kata Reni Astuti.
Status pandemi di Kota Surabaya saat ini berada di PPKM Level 2. Oleh karena itu, Reni meminta kepada semua warga Surabaya agar tidak meremehkan virus Omicron.
Pasalnya, ekonomi dan kesejahteraan warga akan kembali terdampak apabila warganya tidak patuh protokol kesehatan. Fokus saat ini adalah mengendalikan agar Surabaya tidak masuk ke PPKM Level 3.
Reni Astuti mengatakan, semakin banyak kasus positif, dari virus yang dibawa oleh orang yang terpapar kemudian menulari kaum rentan, bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit (RS) akan meningkat. Ini yang menjadi penentu naiknya level PPKM oleh Inmedgari.
"Dampaknya begitu besar pada ekonomi dan kesejahteraan warga. Belum lagi, bantuan sosial bagi masyarakat belum ada," pungkas Reni Astuti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/wakil-ketua-dprd-kota-surabaya-reni-astuti-komentari-medical-tourism-di-rsud-dr-soewandhie-surabaya.jpg)